Showing posts with label Sekolah alam Saga Life School. Show all posts
Showing posts with label Sekolah alam Saga Life School. Show all posts

Thursday, December 17, 2020

Magang yang Dilakukan Siswa Sekolah Alam

Pemagangan akrab kita dengar dan dilakukan oleh siswa di sekolah tingkat atas khususnya di sekolah kejuruan. Biasanya diselenggarakan untuk melihat apakah para siswa ini dapat mengaplikasikan teori yang didapat di dunia kerja. Di sekolah alam, pemagangan ini dilakukan bahkan sejak sekolah dasar kelas 5 dan 6 sampai SMA kelas tertinggi. Makna pemagangan mengalami perluasan di sini.

Siswa memulai kegiatan pemagangan tidak sebatas untuk mendapatkan pengalaman bekerja saja. Pemagangan di sekolah alam dimulai dari usia yang mungkin bagi sebagian orang terlihat “terlalu dini”. Padahal sebelum keterampilan menguasai beberapa hal khusus yang sangat diperlukan oleh seorang individu di dunia kerja, ia perlu mencapai kematangan sosialnya terlebih dulu dan bidang ini harus dilatih sejak kecil agar karakter baik juga karakter kuatnya tumbuh dengan baik. Menurut Majalah YFS, karakter yang diharapkan dari proses magang adalah Inisiatif, Perilaku yang Positif dan Kemauan untuk Belajar, Kemampuan Beradaptasi, Kemampuan Bicara secara Profesional, dan Kemampuan Berpikir Kritis.

Lima karakter tersebut seperti yang kita ketahui, tidak hanya diperlukan untuk menjalankan pekerjaan di bidang tertentu, namun menjadi bekal berkehidupan yang berkualitas. Karakter yang akan muncul dalam pemagangan inilah yang menyebabkan Saga Lifeschool mempersiapkan siswa untuk mengalami pengalaman magang sejak dini (Kelas 5 SD). Jangan dibayangkan siswa SD duduk di belakang meja dan melakukan beberapa pekerjaan seperti yang dilakukan oleh siswa sekolah menengah atas. Saga Lifeschool menyusun kegiatan magang dengan diferensiasi sesuai dengan target karakter yang ingin dicapai dan tahapan perkembangan tiap usia.

Pengembangan Kurikulum menjadi hal lazim yang dilakukan di sekolah alam. Oleh karena itu, penyusunan program pemagangan yang dilkukan oleh Saga Lifeschool mungkin berbeda dengan sekolah alam yang lain. Namun secara umum, target karakter yang ingin dicapai tetap sama. Tahapan magang, lokasi, target, durasi, bidang pemagangan disubstraksi dengan unik. Saga LIfeschool memperkenalkan tahapan magang menjadi Magang Karakter, Magang Sosial, dan Magang Bakat.

Siswa mengalami pemagangan dari hal yang terkesan “remeh”, yaitu mengikuti kegiatan beraktifitas masyarakat dengan kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda dari kehidupan kesehariannya. Ada yang magang di warung kecil di sebuah kampung, ada yang ikut menjadi petani di kampung yang sama. Aktifitas sederhana dengan kondisi sosial ekonomi berbeda inilah yang pada akhirnya memunculkan karakter yang disebutkan sebelumnya. Jika kegiatan sederhana dilakukan oleh siswa SD dengan waktu yang tidak lama, maka siswa SMP dan SMA akan mengalami pengalaman yang lebih kompleks dan semakin lama semakin spesifik dengan keminatan masing-masing.

Monday, December 7, 2020

Satu Mulut, Dua Telinga

Perkembangan berbahasa manusia paling awal dimulai dari mendengar. Indera pendengaran paling pertama berkembang sejak dalam kandungan. Otak anak manusia merekam suara-suara yang sering ia dengar sehingga ketika lahir ia dapat mengorelasikan suara dengan sosok yang perlahan secara visual menjadi jelas di matanya. Selanjutnya dengan suara dan intonasi yang ia pelajari, sang anak akan belajar mengorelasikan suara, intonasi, dan mimik.

Fase peniruan dilakukan dalam rangka memberikan respon pada dunia di luar kandungan. Anak belajar menggunakan indera pengecap yang juga dapat menghasilkan suara. Tahap babbling pun menambah jenis suara yang dihasilkan oleh anak selain menangis dan tertawa.  Pada tahap tertentu, ia mulai mengucapkan satu kata, diikuti beberapa kata, sehingga dapat memproduksi satu kalimat utuh dan dapat dimengerti orang di sekitarnya.

Kemampuan berbicara akan meningkat menjadi keterampilan berkomunikasi yang dipelajari tiap anak manusia secara natural. Ditambah dengan didikan yang menekankan pada adab dan akhlak, dipastikan kemampuan berbicara seorang anak akan berkembang dengan baik. Banyak sekali ungkapan yang menyiratkan betapa kemampuan berbicara dapat membawa keberuntungan atau bahkan kehancuran satu orang hingga satu bangsa.

Pengibaratan lisan (sebagai perwakilan istilah bicara) dengan pisau yang ketajamannya bisa melukai penutur atau pendengar, sangat akurat. Berbicara yang sifatnya natural dapat dilakukan dengan proses berpikir walau terkesan otomatis namun peran otak dalam mengelola pilihan kata yang ingin disampaikan tidak bisa dielakan. Maka, mengenai lisan yang menjadi pisau adalah perkataan yang dihasilkan tanpa melalui proses berpikir yang panjang. Sekali lagi, hal ini terjadi karena proses berpikir yang dilakukan penutur tidak dilatih dengan adab yang baik hingga menghasilkan penilaian akhlak yang buruk.

Berbeda dengan menulis yang membutuhkan kemampuan berpikir satu tahap di atas berbicara, pertanggungjawaban dan efek penulisan lebih berat lagi. Sebuah tulisan dapat menjadi bukti sejarah. Produksi kepenulisan dapat membuka wawasan dan menggerakan. Lebih jauh lagi, tulisan dapat menjadi warisan peradaban. Maka, sebuah kebudayaan sangat bergantung dengan kualitas kepenulisan dan konsumsi tulisan masyarakat pada masanya. Mengapa kekuatannya bisa lebih dahsyat? Tentu saja karena untuk menulis, manusia memerlukan wawasan yang beragam. Ia harus mampu memilih kata yang sesuai untuk disampaikan dengan cara yang benar pada pembacanya agar maksud penulis bisa sampai dengan baik.

Mari kita lihat kualitas tulisan yang beredar di sekitar kita dan mungkin saja menjadi konsumsi anak-anak penerus bangsa. Berapa banyak hal baik yang mereka cerap? Berapa banyak hal yang benar yang mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka ketahui dari bacaannya? Tanggung jawab siapa menyajikan bacaan yang berbobot, memengaruhi mereka untuk memilih bacaan yang bergizi bagi nurani, dan menyebarkan kebenaran melaui bahasa yang baik? Saya yakin, kita merasa terpangil untuk ikut bertanggung jawab. Minimal kita akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan baik lisan atau tertulis di mana pun. Bahkan, pada akhirnya kita merasa butuh menyajikan pembicaraan dan tulisan yang tepat untuk menjadi contoh. Ya. Tidak ada pilihan selain mendidik diri kita sebagai orang dewasa yang layak digugu dan ditiru.

Apakah ajakan ini terasa susah, Teman? Mungkin tidak mudah, tapi jangan menyerah. Satu langkah paling sederhana adalah memproses semua informasi yang ingin disampaikan melalui proses berpikir agar kualitas pembicaraan dan tulisan yang kita hasilkan bisa menjadi informasi yang layak “didengar dan dibaca”.  Inilah salah satu hikmah mengapa Allah ciptakan satu mulut dan dua telinga.

Green Theraphy ala Saga Lifeschool


Mundur ke beberapa bulan ke belakang, kita telah berhasil bertahan di masa yang sempat menggetarkan bahkan menggoncang semua sisi kehidupan. Saya dan penyelenggara pendidikan lain pun sempat merasakan kegelisahan yang sama. Alhamdulillah SagaLifeschool berada di lingkungan yang berusaha saling mengingatkan bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik bagi kita ummat-Nya. Perlahan kami mencari alternatif pembelajaran yang memungkinkan kami siap laksanakan. Alhamdulillah kami terinspirasi lagi oleh Sekolah Alam Bekasi, yaitu Green Theraphy.

Kegiatan tatap muka yang terkesan melawan arus dengan judul Green Theraphy ini tidak diselenggarakan semata-mata tanpa pertimbangan. Kami melakukan penjajakan kepada orang tua mengenai kesiapan mereka bekerjasama dengan model pembelajaran baru sebagai bentuk adaptasi kondisi terkini. Angket kami sebar dan kami evaluasi kesediaan juga pandangan orang tua siswa mengenai rencana yang kami susun. Beberapa wali murid yang berlata belakang medis pun kami undang untuk memberi pandangan. Dengan mengucapkan bismillah, green theraphy di Saga Lifeschool kami mulai sejak awal tahun ajaran.

Green Theraphy merupakan tatap muka yang kami usahakan menjadi hiburan bagi hati dan jiwa siswa di Saga LIfeschool. Dengan waktu yang lebih singkat dari biasanya dan aktifitas yang sangat ringan, kami berharap kebutuhan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan terhubung dengan kegiatan belajar di sekolah, Green Theraphy ini diselenggarakan. Protokol yang kami gunakan bukan hanya tuntunan untuk menjaga kebersihan semata, namun juga menjalankan perintah menjaga kebersihan sebagaimana seorang muslim seharusnya. Jadi, selain siswa dan fasilitator diminta untuk cek suhu dan mencuci tangan, begitu sampai kelas siswa dianjurkan untuk segera berwudhu dan shalat duha. Dilanjutkan dengan senam lalu menkmati snack sehat. Kegiatan belajar pun dibuat seringan mungkin sampai pukul 11 siang mereka kembali pulang. Kegiatan ini berlangsung selama tiga jam saja sepekan sehari. Bagaimana dengan penggunaan masker dan jaga jarak? Tentu kami menganjurkan dan membuat setting kelas besar dipakai oleh 1 kelas. Masker dipakai kecuali saat makan dan olah raga. Posisi masker disesuaikan agar siswa tidak sesak karena nafasnya terganggu.

Untuk semua kendala yang kami hadapi dan berbagai kemungkinan yang terjadi, sepenuhnya kami serahkan pada Allah. Saga LIfeschool meyakini bahwa ketika kita sudah berikhtiar secara maksimal untuk menjaga kesehatan dan mengawal kegiatan pembelajaran sebagik mungkin, maka Allah akan melindungi tiap langkah yang kami ambil. Tiap lembaga pendidikan seperti semua orang tua, pasti memikirkan yang terbaik untuk anaknya. Semua konsekuensi sudah dipikirkan dan Saga Lifeschool siap untuk memikulnya dengan optimis dan bahagia agar imunitas kita tetap terjaga. Semoga Allah SWT menjaga kita semua.

Sunday, December 6, 2020

Untuk Apa Berbuat Baik

 

Aksi dan reaksi sepasang penting dalam komunikasi. Lazimnya komunikasi yang efektif akan terlaksana adalah jika aksi dan reaksi sepadan. Dengan begitu, tujuan dilangsungkannya komunikasi akan tercapai. Tapi, terkadang tujuan komunikasi memang dibuat tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, namun juga mengkonfirmasi, mengajak atau mempengaruhi, atau membutuhkan feedback berupa perbuatan ataupun penjelasan verbal lainnya.

Semakin ahli seseorang mengelola kemampuan berkomunikasinya, maka tanpa kata-kata pun ia dapat menggerakan audience di dekatnya. Kepuasan berkomunikasi yang efektif membawa dampak positif dalam berkehidupan. Manusia berusaha menyebarkan nilai positif dengan cara mengkomunikasikan pemikiran yang dianggap baik. Sayangnya, tidak seperti teori komunikasi efektif, kita sering sekali mendapatkan respon berkebalikan. Ada masanya kita menjadi bingung dengan masalah yang muncul akibat respon yang ditimbulkan tidak seperti yang diharapkan. Sebutlah ini sunnatullah. Tidak semua orang akan menyambut perkataan kita. Bahkan ada juga yang mencemooh atau makin jadi membenci. Dikatakan sunnatullah karena Rasulullah, manusia agung pun mendapati bentuk respon yang menyakitkan.

Bercermin dari Rasulullah s.a.w. yang mengangkat derajat kemanusiaan melalui Ad Dien Al Islam dan bentuk respon manusia yang bermacam ragam, kita bisa menyimpulkan bahwa berbuat benar sejatinya bukan karena berharap ada yang “mendengarkan”. Jika yang diharapkan adalah banyaknya orang yang merespon baik perbuatan baik kita, mungkin dunia sudah hancur. Syukur masih banyak manusia yang menyadari bahwa keputusan berbuat baik adalah karena kita memutuskan untuk menjadi orang baik. Simak deh kalam Allah berikut ini:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’ ayat 7).  

Kebaikan ini tentu mencontoh dari apa yang Allah lakukan dan rasakan pada kita melalui kenikmatan yang kita dapatkan.  Allah SWT menyatakan dalam kalamnya yang mulia:

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashas ayat 77).

Jadi, jangan sekali-kali kita kapok berbuat baik karena perbuatan baik itu balasannya lebih baik lagi walau (terkadang) tidak didapatkan secara kontan. Singkirkan pikiran, “Sama aja aku nasehatin atau tidak. Dia tidak akan berubah. Percuma!” Semoga ayat yang akan kita baca berikut ini menjauhkan dari pemikiran semacam itu dan meneguhkan hati kita untuk selalu berbuat baik:

“Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu.” (QS. Al-Qashas ayat 84)

Menyoal Literasi

Literasi secara umum mengulas sekitar keterampilan membaca dan menulis. Di dalamnya terikat “minat” yang akhirnya membentuk pemikiran pada tiap insan yang tersentuh kegiatan berliterasi. Tidak heran, membaca dan menulis berkaitan erat dengan intelektual. Belakangan literasi menjadi prasyarat penguasaan yang menjadi ukuran kualitas intelektual anak didik. Di Indonesia, baru tahun ini digawangkan oleh Mas Mentri ketika negara “maju” sudah terlebih dulu merangsek pemikiran warga negaranya melalui literasi. Insyaallah Saga Lifeschool tidak akan ketinggalan, siap menemani bintang kecil di sekolah menikmati proses berliterasi.

Seperti yang sudah disampaikan, literasi sangat erat dengan pembentukan pola pikir. Rasulullah diingatkan oleh Allah SWT melalui jibril mengenai ini. Iqra! Proses membaca yang dapat dilakukan bahkan oleh seorang buta aksara adalah Iqra. Membaca semesta. Membaca kemauan Sang Pencipta atas ciptaan-Nya. Menjawab semua misteri kehidupan dengan hikmah lalu menuliskannya. Tulisan yang berubah menjadi bacaan. Tulisan yang mengajak manusia berpikir dan bertindak bijak. Tulisan yang menghadirkan tulisan lain karena menginspirasi dan membuka cakrawala baru. Membuka kemungkinan dan harapan mengenai sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan menjadi penemuan terbaru yang diperbaharui setiap masa. Begitu besar kekuatan literasi. Kita bisa menemukan bukti kekuatan literasi yang mengangkat derajat kemanusiaan melalui buku dan kebiasaan membaca yang bahkan menguatkan tiap budaya bangsa-bangsa di dunia.

Melalui pemikiran inilah, Saga Lifeschool berusaha untuk melakukan beberapa tahap di bawah ini untuk memulai kegiatan berliterasi yang lebih terstruktur:

1.      Membuka wacana mengenai apa itu literasi. Siswa akan mendengarkan kisah bangsa-bangsa yang bangkit menjadi pemimpin sebuah zaman melalui literasi. Bahkan para pejuang kemerdekaan negara kita menjelma sastrawan dan sastrawan menjelma pejuang untuk membangkitkan semangat merebut kemerdekaan tanpa dicurigai para penjajah.

2.      Membaca adalah langkah yang harus dijalani dalam pembelajaran literasi. Ketrampilan membaca dengan keras dapat memperlihatkan pemahaman siswa terhadap bahan bacaannya. Terlebih jika intonasi mengikuti alur kisah dan penokohan. Di proses ini sebaiknya guru mencontohkan agar siswa mudah mendapatkan model membaca yang tepat. Pilihan bacaan menjadi penting di sini. Tiap guru memilih bacaanyang tepat dan dikuasai, terpenting dicintai. Tujuannya adalah agar siswa mendapatkan ekspresi terbaik sang guru dalam menyampaikan bacaan tersebut. Tujuannya, agar siswa menyukai proses membaca, memahaminya, dan menjadikan aktfitas membaca sebagai bagian dari kesehariannya.

3.     Siapkan bahan bacaan bervariasi dari berbagai jenis sastra hingga latar budaya yang berbeda. Tujuannya adalah agar siswa mengetahui dan menikmati jenis bahan bacaan yang kemudian menginspirasinya dalam banyak hal. Sumber literasi yang bisa diakses adalah Novel, Cerpen, Puisi, Naskah Drama, Film, dan Lagu.

4.    Setelah siswa bergaul dengan beberapa sumber literasi, guru dapat  mengarahkan siswa untuk memproduksi sendiri tulisan baik itu murni hasil pemikiran mereka sendiri maupun reproduksi berupa resume, paraphrase (mengubah puisi ke bentuk prosa lain), melakukan apresiasi kinetik dan verbal terhadap karya sastra tertentu.

      Semoga literasi yang kita kembangkan membawa kebahagiaan yang menular dan optimism yang mengembang di sanubari siswa-siswa kita. Semoga apa yang diusahakan menjadi sarana bagi diri-diri kita pribadi untuk melangkah lebih jauh dan terbang lebih tinggi; menjadi pribadi yang lebih baik lagi; guru yang menginspirasi. Untuk fasilitator di Saga Lifeschhol, “Semangat!”.

Friday, December 4, 2020

Proses Kreatif

Apa yang paling menghambat proses kreatif? Biasanya yang menjadi halangan paling utama proses kreatif adalah mood. Yang kedua dan yang paling menghambat adalah mindset. Merasa tidak kreatif, tidak biasa membuat kreasi, bukan keturunan seniman, dan alasan-alasan lain yang sesungguhnya justru menutup keran kreatifitas.

Semua orang bisa berkreasi. Utamanya ketika dalam keadaan terdesak, manusia dapat mengoptimalkan akalnya untuk memenuhi kebutuhan dengan persediaan yang ada. Inilah bentuk kreasi termudah muncul ketika kita berusaha bertahan hidup. Meminjam istilah zaman sekarang, kreatif adalah kere tapi aktif. Tidak salah ungkapan tersebut. Kadang dibutuhkan desakan tingkat tinggi agar kreatifitas dapat dihadirkan.

Bagaimana dengan mood? Mood menjadi alasan kreatifitas menemui jalan buntu, seperti “Lagi ngga mood nih. Ngga dapet ide.” Begitu kira-kira. Padahal ada juga yang bilang, “Ngga mood ya jangan diemut”. Artinya jika mood sedang tidak baik, jangan dibiarkan dan hanya menunggu sampai mood kembali stabil. Berusahalah agar kembali mood karena mood atau tidak tergantung dari kita.

Di Saga Lifeschool, kreatifitas sangat dibutuhkan. Baik siswa maupun fasilitator didukung untuk berkreasi semaksimal mungkin. Berikut ini langkah secara umum yang dapat membantu kita mengembangkan kreatifitas:

1.      Preparation

Tahap persiapan. Di sini setiap kita bisa mengumpulkan ide. Biasanya ide datang dari hal yang kita ketahui sebelumnya atau pada hal yang kita sukai. Gali lebih banyak di antara kedua hal ini sehingga muncul beberapa ide untuk digali lebih dalam

2.      Incubation

Inkubasi adalah tahapan ketika kita menguji coba beberapa ide besar hingga pemikiran mengenai ide tertentu mulai dominan

3.      Illumination

Tahap iluminasi adalah masa ketika kita mulai mengkristalisasi ide yang ingin dikembangkan

4.      Verification

Tahap verifikasi mengawal kita untuk memproses ide menjadikan sesuatu yang lebih konkrit serupa produk atau gerakan tertentu.

Empat langkah di atas menunjukan bahwa kreatifitas bukan “jatuh dari langit”. Kreatifitas adalah sebuah proses yang disengaja untuk dihadirkan, kegiatan yang melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Inilah sebab Project Based Learning sangat digandrungi di dunia pendidikan belakangan ini dan menjadi metode pembelajaran di SagaLifeschool.  Semoga dengan perbanyaknya proses kreatif di kelas-kelas kita, hadir manusia-manusia kreatif yang menghadirkan solusi yang tepat bagi masalah-masalah kehidupan di masa depan.

Thursday, December 3, 2020

Independen, dependen, dan interdependen

 Manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan (interdependen) satu dengan yang lain. Tingkat ketergantungan sebenarnya mulai berkurang seiring dewasanya usia. Pemahaman mengenai ketergantungan ini sebenarnya sangat erat dengan pemenuhan hak yang jika tidak ditunaikan pada masa yang sesuai, maka akan mengakibatkan “terhutang”. Maka tidak aneh jika pada akhirnya masih ada orang dewasa yang susah diajak serius dan senang bermain karena ketika kecil digegas untuk “cepat besar”, diminta untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri ketika ia seharusnya masih tergantung dengan orang yang lebih tua. Inilah sebab, di TK Saga Lifeschool kegiatan belajar siswa masih difokuskan pada pemenuhan hak untuk bahagia. Bermain dan ketergantungan dengan guru dan orang tua terfasilitasi dengan baik.

Dependen pada anak atau ketergantungan dengan orang lain pada anak di bawah usia tujuh sangat baik dilakukan sebagai bentuk perlekatan dan modeling. Anak akan memiliki contoh mengenai bagaimana cara mengasuh, melindungi, melayani yang dilakukan orang dewasa padanya. Saat dewasa, mereka akan terbiasa mencitai seperti halnya dicintai ketika kecil. Orang-orang dewasa yang tercukupkan ketergantungannya saat kecil akan tumbuh menjadi manusia yang independen, manusia yang mandiri karena melihat sosok dewasa yang mengayominya. Secara naluri mereka akan mencontoh dan berlatih untuk dapat memenuhi kebutuhannya tanpa tergantung orang lain. Hal ini hanya diperoleh ketika “jatah ketergantungan” ini terpenuhi selama usia di bawah tujuh tahun. Tentu saja setelahnya, mereka diharapkan dapat mulai masa pengurusan diri sendiri dengan gembira.

Pengasuhan kadangkala seperti bermain layang-layang. Kadang diulur, kadang ditarik. Kadang latihan kedisiplinan untuk anak  dilonggarkan, lain waktu ditegaskan. Ya. Mendekati usia tujuh, orang dewasa (guru dan orang tua) sebaiknya mulai mengajarkan anak untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri. Di SD Saga Lifeschool, siswa akan dilatih kemandirian dimulai dari hal yang sangat sederhana seperti mengambil minum sendiri, buang sampah di tempatnya sampai membereskan mainan. Dependensi menjadi masa yang sangat membahagiakan karena anak menjelma menyambut masa akil baligh dengan penuh kesadaran.

Bagaimana dengan orang dewasa yang ketergantungan dengan orang lain-nya masih sangat besar? Bagaimana dengan anak-anak yang maunya melakukan apa-apa sendiri? Harap diingat, semua orang dewasa yang menggantungkan kebahagiaannya dengan kebahagiaan komunal, maka ia akan mengalami banyak kendala dalam hidupnya. Ia harus mendidik dirinya untuk berani tidak tergantung dengan orang lain. Sedangkan, anak yang menginginkan melakukan segalanya sendiri bukan menunjukan bahwa ia sudah siap untuk independen melainkan penunjukan ego.

Menyikapi Perubahan

Seperti yang kita sadari, ada beberapa hal yang membuat kita tidak nyaman, satu di antaranya adalah perubahan. Kondisi yang berubah menyisakan konsekuensi yang kadang tidak dapat kita prediksi. Bagi yang memiliki ketakutan berlebih, perubahan ini menjadi berkali lipat tidak nyaman. Alarm bahaya seolah menyala berkali lipat intensitasnya. Maka sebisa mungkin ia bertahan untuk tidak melakukan perubahan signifikan agar area nyamannya tetap terjaga. Walau tentu saja, tak ada yang menjamin sekali pun mereka berdiam di area nyaman, bahaya tidak akan mengintai. Yang bisa kita lakukan sebagai pendidik untuk menyiapkan anak lebih berani menghadapi perubahan adalah libatkan mereka dengan banyak aktifitas seperti yang dilakukan di Saga LIfeschool. Secara alami pun anak-anak akan lebih siap dengan berbagai kemungkinan. Mengalami banyak hal sebagai referensi sikap yang paling tepat dengan berbagai ketidakpastian, menghadapi perubahan.

Mengapa anak-anak harus kita siapkan untuk berani menghadapi perubahan? Jawabannya adalah, hanya ada satu hal yang tidak berubah dalam hidup, yaitu perubahan itu sendiri. Ya. Perubahan adalah hal yang pasti dalam hidup. Selera, hobi, kecendrungan, pilihan sikap mungkin menjadi bagian dari karakter individu. Tapi, masih sangat mungkin ada sedikit perubahan, baik yang disengaja atau alami terjadi. Seseorang bisa saja menjadi benci balapan motor karena pernah mengalami trauma kecelakaan. Tapi, jauh di balik itu semua, ia masih memiliki keberanian tersimpan yang suatu saat bisa kembali dibangkitkan dengan cara terntentu. Keberaniannya tertutup dengan trauma. Di sanalah letak perubahannya.

Oleh karena perubahan adalah hal yang pasti dalam hidup, marilah kita mulai meyakini bahwa seburuk apa pun sikap seorang anak, ia masih bisa berubah. Seperti apa pun kesalahan yang pernah dilakukan seorang anak, ia masih punya kesempatan memperbaikinya. Ajak anak didik kita untuk melafalkan doa seperti yang Nabi s.a.w. contohkan,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

 Insyaallah bentuk perubahan apa pun yang datang menghampiri, keteguhan imannya akan mampu menjaga mereka untuk tetap dapat merespon dengan sudut pandang yang baik. Cara yang paling baik yang diridhai Allah.

Perubahan bukan hal yang menakutkan. Allah sudah siapkan kita untuk menjadi individu yang kokoh yang mampu berdiri di zaman yang serba tidak pasti. Allah satu-satunya yang pasti ada dan menjaga. Kuncinya satu: yakin.

Bismillah. Semoga dengan diterapkannya “berangkat ke sekolah sendiri”, magang, live in, camping, jungle cooking, bahkan ngasong, anak-anak di Saga Lifeschool menjadi pribadi yang kuat.  Menjajal keberanian dengan tantangan yang terbaca atau pun tidak terduga. Siap untuk melangkah dengan program baru, dengan teman baru, dan di tempat baru. Menyimpulkan bahwa dirinya adalah persona yang sesuai untuk menjalani dunia manusia akil baligh yang bertanggung jawab di hadapan Rabbnya.

Wednesday, December 2, 2020

Membicarakan Masa Depan

Pernahkah kita menyempatkan diri berbicara tentang apa yang kita rancang untuk masa depan? Berbicara tentang kita. Ya  kita sebagai anak, sebagai pasangan, sebagai orang tua, sebagai warga masyarakat, atau pun kita sebagai seorang hamba. Kita sering kali menganggap berbicara mengenai masa depan seperti apa yang diinginkan seolah seperti membicarakan mimpi yang hanya sekadar mimpi. Padahal membagikan rencana dan langkah yang diambil untuk memenuhi perencanaan tersebut adalah hal yang baik.

Orang yang paling berani menceritakan tentang rencana di masa depan, adalah anak-anak. Mereka tidak takut membayangkan jadi versi terbaik dirinya. Walau tentu secara logika, mereka tidak menjabarkannya secara detil mengenai bagaimana cara menjadikan cita-cita masa depan itu dapat tercapai. Mereka memiliki keyakinan yang sedihnya mulai tergerus ketika orang dewasa di sekitarnya menertawakan atau sang anak mulai memahami realita.

Sebagai orang tua atau guru, akan lebih baik jika kita menampung semua cerita yang menggambarkan mengenai ingin jadi apa dewasa nanti. Ada yang ingin jadi superhero, ada yang ingin memiliki rumah tingkat lima, ada yang ingin jadi astronot, ada yang ingin jadi presiden. Ternyata di balik itu semua, kita bisa melihat bahwa si anak kecil mampu menangkap nilai-nilai keren yang dimiliki sosok masa depan yang ia impikan. Mereka kagum dengan super hero yang tidak merasa takut. Mereka ingin jadi presiden karena melihat presiden dapat melakukan banyak perubahan di dunia. Mereka percaya bahwa dokter bisa menghilangkan keluhan sakit dan mengembalikan kebahagiaan pasien dengan kembali sehat. Hal ini yang harus kita pegang dan yakinkan pada sang anak bahwa mereka bisa belajar jadi berani, menjaga kesehatan ,merawat si sakit, melakukan perbaikan, sejak mereka masih kecil. Menjadi “orang yang dipercaya” menjadi bekal yang paling hebat dalam meningkatkan kepercayaan diri anak menghadapi masa depan. Apalagi jika kita kaitkan dengan meyakini bahwa Allah selalu ada dan menjawab doa-doa kita. Allah pasti membimbing kita mencapai cita-cita yang diinginkan. Insyaallah sang anak akan tumbuh menjadi pribadi tangguh yang tau harus berbuat apa dan bagaimana ia merencanakan kehidupannya.

Jika bicara mengenai masa depan dan kita masih memandangnya abu-abu, tidak yakin, sedikit takut, maka bercerminlah dari kanak-kanak. Keriangannya, keyakinannya, kemampuannya melupakan sedih adalah bekal untuk menjalani kehidupan. Fitrah yang masih dijaga Allah. Insyaallah dengan kembali membersihkan diri (tazkiyatun nafs) kita akan kembali optimis berbicara mengenai masa depan. Berbicara mengenai apa yang kita harapkan dan bagaimana cara kita mencapainya. Mengenai bagaimana cara Allah membimbing dengan berbagai ujian, kita cukup yakin saja bahwa di balik ujian Allah siapkan jalan keluar terbaik. Sebutlah ujian sebagai penanda, bahwa apa yang diinginkan sebentar lagi tercapai. Balasan dari maksimalnya ikhtiar. Jadi, sudah berani bicara mengenai masa depan?

PS: Yuk teman-teman fasilitator Saga Lifeschool, kita ajak teman-teman kecil kita bicara mengenai masa depan.

Anggrek dan Harapan

Untuk saya di masa datang,”Bagaimana kabar anggrek yang dirawat selama in?” Awal tahun 2020 saya dibelikan anggrek oleh suami. Masyaallah antara kaget dan senang jadi satu. Setahu saya anggrek lumayan mahal dan sedikit rewel. Hari itu tiga anggrek datang saat maghrib. Yang membelikan belum lagi sampai rumah. Dua dendrobium Sonia dan satu anggrek bulan putih. Beberapa hari saya rawat anggrek ini baik-baik saja. Naiklah sang anggrek ke status WhatsApp. Mashaallah banyak yang suka. Dua dari tiga anggrek berpindah kepemilikan. Alhamdulillah suami tersayang tidak mempermasalahkan. Uang yang didapat buat beli anggrek jenis lain dan saya jual lagi. Tidak berlangsung lama jual anggrek, saya berhenti. Ingin merasakan nikmatnya merawat anggrek. Ada rasa sedih setelah menjual anggrek yang sudah sempat dirawat. Ada rasa khawatir ketika anggrek yang kita rawat diadopsi oleh orang lain. Subhanallah ujian juga. Hehehe.

Kesukaan saya pada anggrek tidak sampai berlebihan, tapi Alhamdulillah cukup konsisten untuk saya yang kadar konsistennya rendah sekali. Ini tanda-tanda cinta sepertinya. Kecintaan ini yang  membuat saya berani mengajukan agar sekolah alam jingga yang sekarang menjadi Saga Lifeschool membuat sebuah kebun kecil khusus anggrek. Masyaallah permintaan saya disetujui. Bukan karena saya terlihat berhasil merawat anggrek, tapi karena sudah banyak yang jatuh cinta pada anggrek di Saga Lifeschool. Semakin asik ngobrolin anggrek dangan teman-teman di sini.

Untuk diketahui, anggrek adalah jenis tanaman hias yang lambat pertumbuhannya. Jadi ketika kita beli anggrek yang sudah berbunga, ketahuilah, usia mereka hingga bisa berbunga itu di atas dua tahun. Rata-rata yang plantnya kelihatan kokoh dan sudah pengalaman berbunga adalah di usia tiga sampai empat tahun. Oleh karena itu saya menghargai setiap tunas yang muncul, setiap daun yang tumbuh, setiap bunga yang mekar.

Apakah anggrek rewel? Kalau disebut rewel sebenarnya tidak. Memastikan anggrek ditempatkan di lokasi yang tidak terlalu terik dan mendapatkan cukup sirkulasi udara, disiram dua kali sehari, dipupuk dua kali sepekan, maka pertumbuhannya akan optimal. Apakah anggrek mati jika tidak diberikan perlakuan seperti itu? Tidak! Anggrek adalah tanaman yang kuat. Jika pun terlihat mati, masih bisa kita regrow. Potong akar yang busuk, potong batang perdua ruas, buang daun kering atau kuning lalu disiram sehari dua kali, sepekan dua kali kembali disiram pupuk, insya Allah mereka akan kembali hidup. Tunas kecil atau yang biasa disebut keiki akan mulai muncul, begitu pun akar baru. Anggrek mengajarkan kita tentang harapan. Sebuah kata yang muncul di sela badai coban. Hehe tiba-tiba merasa begitu terikat hati ini dengan proses pertumbuhan anggrek. Mungkin karena Saga Lifeschool juga menanam cita-cita seperti anggrek ini. Hasilnya tidak bisa kita nimati segera, tapi merawatnya begitu membahagiakan. Doakan ya cita-cita Saga Lifeschool memiliki kebun anggrek di Saga Creative Park untuk pembelajaran bisa terlaksana.

Kisah untuk Diceritakan

Seorang guru selalu punya kisah untuk diceritakan. Pendengar terbaik kisahnya adalah pemilik hati yang bening dan mencintai para guru apa adanya. Mereka yang merangkul sebelum meminta. Mereka yang senyumnya menularkan kebahagiaan sepanjang hari. Mereka yang bahkan bukan darah daging sendiri, tapi begitu terpaut. Rapat. Dalam. Berbahagialah para guru dengan muridnya di kelas-kelas yang berubah wujud menjadi dunia mereka sendiri. Berbahagialah para guru di Saga Lifeschool, tempat saya beraktifitas, juga para guru di seluruh penjuru dunia atas kecintaan yang tulus dari hati setiap anak.

Ketika seorang guru bercerita mengenai perjalanannya ke sebuah tempat melalui jalur darat, maka imajinasi seorang anak bisa muncul sebegitu detil. Apa yang dikenakan sang guru, bawa apa saja, melihat apa saja selama di perjalanan, duduk di sebelah siapa, berhenti di mana, dan lain sebagainya. Sebagian anak lain sebelum sempat membayangkannya sudah terlebih dulu menanyakan semua pertanyaan itu. Berbondong-bondong membuat cerita yang baru saja dimulai melebar kemana-mana bahkan lebih seru dari perjalanan sang guru sebenarnya. Setidaknya, inilah yang saya perhatikan di Saga Lifeschool.

Memilih cerita dari kisah yang kita ketahui butuh ketelitian. Walau dalam proses penyampaiannya terlihat sederhana, namun tiap anak akan menangkap pesan di balik itu melalui sudut pandang yang terbangun secara pribadi. Sudut pandang yang dipengaruhi oleh pengalamannya, oleh pola asuh yang ia terima selama ini. Maka, perlu bagi tiap guru yang bercerita memilah cerita yang memiliki hikmah di baliknya. Ijinkan setiap anak untuk memberi pendapat dan bertanya. Masyaallah indah sekali. Tidak perlu waktu lama, tiga puluh menit akan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu setiap anak untuk mendengarkan cerita sang guru. Tiga puluh menit itu akan menjadi masa yang mempengaruhi karakternya.

Menceritakan kisah yang sederhana ternyata tidak sederhana efeknya. Oleh karena itu, dibutuhkan kebahagiaan ketika melakukannya sehingga kegiatan bercerita menjadi menyenangkan. Menjadi jalan untuk saling mengkoneksi kebahagiaan. Selamat menceritakan kisah dan mengabadikannya dalam proses berbagi cerita bersama para bintang kecil di sekolah.

Tuesday, December 1, 2020

Mengasah Kedua Mata Kapak

Banyak melakukan kegiatan dengan banyak variasi menuntun kita untuk mengetahui prosentase enjoy, easy, excellent, dan earn atau yang biasa disebut 4E dari kegiatan-kegiatan tersebut. Memang sejak dini sebaiknya setiap anak melakukan banyak kegiatan agar mereka dapat menyatakan 4E (gue banget) paling dominan di jenis kegiatan seperti apa. Kemudian, muncul pertanyaan, apakah kegiatan yang tidak gue banget tidak perlu dikuasai? Misalnya memasak, berjualan, merawat orang sakit adalah kegiatan yang tidak disukai (tidak enjoy), tidak dikuasai (tidak excellent), maka tidak perlu dilatihkan? Sebaiknya beberapa hal tetap dilatihkan jika terkait dengan lifeskill ketika keterampilan tersebut menunjang kebutuhan untuk bertahan hidup. Oleh sebab itu, Saga Lifeschool  melibatkan siswa dalam melakukan banyak kegiatan.

Suka atau tidak suka, setiap orang harus bisa memasak untuk memenuhi hajat hidupnya yang vital, yaitu makan. Terlepas dari di luaran sana sangat mudah bagi kita untuk mencari makanan siap santap, memasak tetap harus dikuasai. Ibarat mengasah mata kampak, kita mengasah di keduanya tidak hanya di bagian yang tajam saja. Siswa kaan dilibatkan dengan kegiatan memasak dimulai dari belanja bahan makanan, menyiapkan bahan masakan, menyiapkan bahan penunjang dan bumbu, menyalakan kompor hingga proses masak dilakukan sampai makanan siap dinikmati adalah rangkaian yang harus dikuasi tiap orang dan dilatihkan sejak kecil. Kita tidak tahu sampai kapan bisa membantu mereka memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan Saga Lifeschool juga sekolah lainnya  melatihkan keterampilan dasar seperti ini insyaallah tiap anak akan tumbuh menjadi manusia mandiri yang keberlangsungan hidupnya tidak bergantung pada orang lain.

Untuk anak-anak yang ternyata menemukan 4Enya di kegiatan memasak, mereka akan dengan sendirinya melibatkan diri dengan dunia memasak. Ia akan mencoba banyak masakan, mencari dan mencoba berbagai resep, menawarkan orang untuk mencoba masakannya, sehingga pada akhirnya produk masakannya memperoleh penghargaan tertentu baik secara emosional maupun finansial. Penajaman ini baru akan dilakukan pada akhir level SMP dan awal SMA di Saga Lifeschool. Level SD sampai awal SMP siswa akan dilibatkan dengan banyak kegiatan dan petualangan. Mereka akan “pernah” dan “sering” melakukan “banyak hal”. Terkadang mereka membutuhkan usaha agak lebih dibandingkan kawannya yang lain ketika melakukan kegiatan baru. Di lain waktu dan lain kegiatan mereka berbinar dan tampak tidak lelah.  Tidak mengapa, setiap fasilitator yang baik akan mendampingi sepenuh hati sampai mereka dapat menyimpulkan pembelajaran apa yang diperoleh selama berkegiatan.

Pernah

Pernah adalah kata yang cocok untuk mengalami. Tapi sayangnya seringkali pengalaman hanya menjadi memori. Kita tidak terlatih untuk mengambil pelajaran dari apa yang pernah menjadi bagian dari waktu kita. Pernah mengalami kegagalan, melakukan kesalah, kembali di jalan yang salah karena tertipu, mengalami kerugian, kecewa dengan harapan yang disematkan, dan lain-lain. Contohnya kok pahit semua? Ya kadang-kadang pengalaman menyedihkan adalah pelajaran yang paling ampuh bagi seseorang. Jadi momen terbaik untuk intropeksi dan mengambil pelajaran. Tahap ini adalah waktu yang sangat baik dari semua pengalaman. Setelah mencatat beberapa hal untuk jadi peringatan bagi diri sendiri, biasanya sih jadi lebih hati-hati. Kita jadi lebih perhitungan, lebih matang merencanakan, dan sebagainya.

Kemampuan mengambil hikmah dari setiap kejadian bukan muncul begitu saja. Harus dilatih. Beberapa tools dapat kita gunakan untuk mengikat pengalaman atau pun segala hal yang berbau “pernah”. Bukan hanya pengalaman menyedihkan saja, semua hal yang dialami jika diberikan ruang untuk dicari hikmah atasnya maka akan menjadi pelajaran yang sangat baik bagi pendewasaan tiap individu.

Secara umum keterampilan berpikir untuk menilai pembelajaran diri sendiri (dari pengalaman dll) disebut self assessment. Lebih sistematik jika kita menggunakan keterampilan berpikir yang disebut Higher Order Thinking Skills. Masih dalam area Design Thinking yang agak terkenal di kalangan pendidik jaman sekarang, Higher Order Thinking Skills ini sangat sesuai dilatih sejak usia dini. Biasanya setelah mengalami, kita akan menyadari bahwa dalam melakukan beberapa aktivitas tersebut kita mengetahui beberapa hal baru (remembering) dan kemudian memahami apa yang menyebabkan atau apa yang mempengaruhi hal-hal tersebut terjadi (understand). Suatu saat pengetahuan tersebut akan memimpin kita untuk menjadi acuan dalam melakukan atau membuat sesuatu sebagai produk pemecahan masalah maupun penjabaran ide (apply). Dilanjutkan dengan analisa lalu mengevaluasi. Menyadari pentingnya mengikat pengalaman, Saga Lifeschool menyertakan para fasilitatornya untuk terbiasa dipraktikan di kelas.

Tahapan belajar dengan keterampilan berpikir  diterapkan di SagaLifeschool sejak sekolah dasar. Siswa  sudah dibiasakan untuk menerapkan keterampilan berpikir ini. Tentu sebelumnya, mereka dilibatkan dengan berbagai pengalaman. Bentuk respon siswa diarahkan dengan menggunakan Higher Order Thinking Skills dari yang paling sederhana hingga mereka terbiasa untuk mencari tahu dan menjadikan pengalaman sebagai proses belajar yang pada akhirnya membentuk karakter.

Ilustrasi pengalaman yang diubah menjadi pembelajaran secara alami insyaallah saya tampilkan di post selanjutnya. Saya kumpulkan dulu dari para fasilitator keren di SagaLifeschool. Stay tune!

Monday, November 30, 2020

Seni Kehilangan

Kehilangan biasanya menyisakan rasa tidak “nyaman”. Teringat semua hal yang bisa kita lakukan saat kehilangan belum terjadi. Teringat betapa kita tidak begitu hirau dengan keberadaan sesuatu sebelum kehilangan. Yang paling berat dari kehilangan adalah ketika rasa kepemilikan begitu dominan, hingga saat sesuatu itu hilang, sedih akan bercampur dengan marah. Menyalahkan seseorang, menyalahkan keadaan.

Berlatih untuk kembali tenang ketika badai kehilangan menerpa, membutuhkan waktu. Tapi, bukan tidak mungkin kesedihan itu tersapu dan berganti ketenangan seperti hujan semalam yang menyapu kemarau berbulan-bulan. Allah yang memiliki kuasa di balik itu semua. Sungguh mudah bagi-Nya mengembalikan ketenangan pada siapa pun. Jangan lupa, semesta ini berlaku dalam kendali-Nya. Apalah arti perkara mengangkat kesedihan dari relung jiwa manusia?

Jika kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita sayang begitu berat terasa; menghimpit dada hingga terasa begitu sesak, tetaplah percaya bahwa ini hanya sementara. Mereka yang dahulu sempat ada sejatinya tidak hilang, tapi berpindah tempat. Yang memiliki, meminta kembali. Jangan sampai kita kehilangan harapan ketika mereka hilang dari pandangan. Kehilangan harapan menjadikan kehidupan lebih berat berkali lipat. Menutup semua kemungkinan untuk bangkit dan menata hidup untuk lebih berarti.

Di masa ini, kehilangan menjadi terasa begitu berat karena pendar ketakutan akan kehilangan merebut optimisme lebih berat dari sebelum kehilangan sebenarnya terjadi. Manusia ketakutan hilang kesehatan dan hilangnya nyawa ketimbang hilangnya harapan. Ternyata ketakutan akan kehilangan keduanya membuat kita kehilangan kesempatan untuk hidup optimis, mengisi hari dengan prestasi bahkan untuk menjadi lebih berarti. Sejatinya sehat adalah elemen yang akan terjaga ketika kita memiliki harapan. Yang sakit akan sembuh, yang sedih akan kembali ceria ketika mereka memiliki harapan. Bukankah harapan menanamkan bahagia dan memekarkan senyum yang hadir dari hati. Senyum yang menyebarkan optimisme dan semangat untuk bangkit. Bukankah itu arti hidup sebenarnya?

Semoga  kita tetap memahami arti kehilangan  sebagaimana kita berusaha tetap yakin bahwa segala hal yang terjadi adalah kehendak Allah SW. Insyaallah kita bisa melewatinya dengan baik. Yang hilang akan diganti Allah dengan yang lebih baik. Apa pun bentuknya, jenisnya, semua yang terbaik bagi kita. Walau saat ini masih misteri, tapi yakinlah semua akan membaik. Allah yang menjamin.

اذا اخذ الله منك ما لم تتوقع ضياعه .. فسوف يعطيك ما لم تتوقع ان تملكه

“Jika Allah mengambil darimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka kehilangannya, maka Allah akan memberimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka akan memilikinya.” (Prof. Dr. Mutawalli Assya’rawi)

Alhamdulillah seni ini sedang kami pelajari di Saga Lifeschool. Menapaki semua skenario dan meyakini bahwa ini yang terbaik dari Allah. Saya yakin setiap kita akan terus belajar menjadi versi terbaik dirinya, keluarganya, institusinya. 

Mewariskan Mimpi

Rasanya kita sudah mual mendengar kata-kata “setiap bayi yang lahir di negara ini memikul hutang negara sebesar sekian juta rupiah”. Terlepas mengenai bagaimana seharusnya pemahaman ini diterjemahkan dalam berbagai kebijakan dan seterusnya, saya merasa kita sebaiknya focus mengenai bagaimana cara kita terlepas dari masalah ekonomi secara lebih positif. Sedih sekali, bayi-bayi lucu dan tidak berdosa diwarisi hutang oleh negara. Sudahlah, mari kita pikirkan apa yang bisa kita wariskan pada anak-anak kita, tentu saja selain hutang. Saya menemani teman-teman bertumbuh di Saga Lifeschoolsebenarnya pun dalam rangka mewariskan mimpi pada anak-anak saya yang juga bersekolah di sini. Salah satu hal positif yang bisa saya lakukan dan diteruskan oleh mereka kelak. Semoga. Bagaimana dengan teman-teman?

Tidak ada yang memungkiri, finansial adalah satu penting dari beberapa hal yang fundamental dalam kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup. Tapi, lagi-lagi kata “hutang” cukup mengganggu saya. Bukan hanya negara yang terlibat hutang, saat ini orang-orang di sekitar kita, warga negara biasa, dibuat tergantung dengan “berhutang”. Pinjaman Online dengan jaminan mudah atau tanpa jaminan sama sekali membuat mereka yang begitu membutuhkan pertolongan keuangan terbelit begitu dalam. Harian mereka membayar bunga sampai jumlah total hutang berkali lipat meningkat. Semoga apa yang ditanamkan oleh para fasilitator Saga Lifeschool kepada anak-anak kami menjadi modal bagi mereka untuk mandiri secara finansial. Tidak menjadi beban bagi orang di sekitar dan membuka jalan keluar juga berkolaborasi dengan orang baik yang siap berproses bersama mereka.

Site Plan Lokasi Saga Lifeschool 

Site Plan Saga Lifeschool


Mimpi adalah keinginan hati yang menjadi hasrat. Mimpi adalah cita-cita yang terjaga bahkan terbawa dalam tidur. Mimpi saya dan teman-teman membawa Saga Lifeschool pada sebuah kondisi yang saling mewarisi setelah merasa saling melengkapi. Keahlian masing-masing individu di SagaLifeschool dijalankan secara optimal. Mimpi itu adalah bisa menyelenggarakan pendidikan yang membahagiakan hingga asset yang dihasilkan dari berkehidupan yang bahagia itu bisa membawa kami ke surga. Mimpi yang kami wariskan ini akan diwujudkan oleh anak-anak kami kelak. Semoga.

Sunday, November 29, 2020

Hantu yang Menangkap Rasa Takut

 Di are TK Saga Lifeschool saya termenung. Memikirkan “takut”. Bahwa setiap kita memiliki rasa takut, tak ada yang mengingkarinya. Untuk segala sesuatu yang tidak pasti, tidak dapat diprediksi, tidak mampu diperkirakan itulah ketakutan mewujud. Sebagian besar manusia berlaku baik karena berharap semua orang akan berlaku baik padanya. Padahal dunia tidak berjalan demikian. Ada banyak hal dalam hidup ini berlaku kebalikan. Inilah penyebab banyak orang merasa takut. Seperti halnya saya.

Ketakutan menghantui di mana-mana. Mungkin itu sebabnya hantu muncul di depan penakut. Hantu menjadi sosok yang menjadi sebab rasa takut. Padahal, ketakutan adalah makanan “para hantu”. Mereka menikmati ketakutan yang mengambil alih akal sehat. Mereka berpesta ketika manusia bersembunyi di “area aman” yang diciptakan oleh manusia lain yang mneyebut dirinya pemberani. Yang takut akan penjara, tapi masih suka korupsi, bersembunyi di belakang pejabat yang menyebut dirinya kuat; berani. Seterusnya begitu. Sebelum postingan kali ini merembet kemana-mana, saya mengucapkan selamat pada teman-teman yang berhasil mengatasi rasa takutnya. Selamat lahir kembali sebagai pemberani dan memakan hantu-hantu itu sampai semua hantu takut dan kapok menghantui akal sehat dan iman anak manusia.

Saya dan teman-teman di SAGA Lifeschool pun sempat merasa takut ketika dinamika di institusi yang kami bangun mengalami kondisi yang tidak pernah kami prediksi. Namun, ketika kami menyatakan berani untuk mengadapi ini semua lalu berjanji untuk menjalankan tugas secara amanah dan lebih kuat lagi; lebih kuat dari sebelumnya, semua hal yang ditakutkan perlahan mulai hilang. Berganti dengan terangnya langkah yang harus diambil sebelum ketakutan itu menghantui. Gentayangan di mana-mana. Biar hantunya pindah ke tempat lain. Hehehe.

Ketika kita mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa dan duduk bersama untuk kembali berdiri, rasakanlah aliran kehidupan baru menjalar dari kaki sampai ke jantungmu. Rasakan dan tularkan melalui sentuhan kepada mereka yang di dekatmu. Genggam tangannya lalu bersiaplah. Perjalanan kita tidak akan mudah. Tapi, jika melakukannya bersama, tak ada yang susah. Hilang semua ketakutan.  Terima kasih Tim Peradaban Madani Saga yang menaungi Saga Lifeschool. Satu kata untuk perjuangan ini: Allahu Akbar!

Belajar Menggunakan Homestyler

 Seperti yang sudah saya tuliskan di artikel sebelum ini, saya akan menjelaskan cara menggunakan dua perangkat free design bangunan yang saya gunakan untuk menggambar siteplan dan design Saga Lifeschool khususnya Saga Creative Park. Nah, tutorial menggunakan homestyler akan saya jelaskan di sini. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin menggambar bangunan. Insyaallah saya akan buat sesederhana mungkin. Sebelumnya, buka akun email atau facebook kalian ya agar mudah registrasi untuk mendapatkan akun di homestyler.com ini.

1. Buka webnya Homestyler. Klik link www.homestyler.com/roomplanner


2. Klik "Create New Design", dan Pilih "File" dan "New" maka akan muncul seperti ini:


3. Klik "Create Room" dan pilih cara menggambar yang ingin digunakan. Bisa menggunaka titik ke titik atau dari bentuk kotak seperti ini:


4. Klik pilihan teknik menggambar yang kamu inginkan, lalu muncul tanda "+" dan gerakkan kursor searah panjang dan lebar yang diinginkan:


5. Ruangan dapat diatur panjamg dan lebarnya dengan cara menghidupkan garis (dekati kursor hingga garis menjadi biru, klik dan geser). Hasilnya, kamu akan memiliki ruangan 2 dimensi seperti ini:



6. PIlih ikon sekop bernama "building" seperti gambar di atas untuk menambahkan elemen bangunan seperti jendela, pintu, atap, tiang, ongliong, dll seperti ini:


7. Klik elemen bangunan yang diinginkan, lalu letakkan di garis design 2D ini. Tambahkan jendela dan pintu seperti ini:


8.  Kamu bisa tambahkan ruangan dengan cara klik tombol "create room" seperti langkah nomer 3. Pilih "by center" atau "by edge".


9.  Kamu bisa menambahkan ruangan dan elemen bangunan lainnya sesuai kreasimu:


10.  Klik kanan untuk menghentikan mode menggambar, dan akan tampak pilihan cancle atau exit. kmau bisa pilih salah satunya.


11. Lihat gambarmu dalam 3D atau bisa tampak orbit (seperti drone). Tampilan 2D di web ini modenya adalah "plane". Yuk lihat bagaimana kalau kita klik Orbit view:




Seru ya? Begitulah langkah sederhana menggambar menggunakan homestyler. SIlakan dicoba-coba. Ohya sebelum beralih ke artikel selanjutnya, yuk lihat tombol lain dan kegunaannya. 

Di bawah gambar skop sebelah kiri akan terlihat gambar "sofa". Isinya katalog furniture. Jadi selain bisa membuat design bangunan, kita bisa menambahkan furniture yang akan mengisi bangunan.




Di bawah gambar sofa ada roll cat. di ikon itu ada pengaturan warna cat dinding, lantai, langit-langit.Seru ya. Jadi begitulah kira-kira saya menggambar design Saga Creative Park untuk Saga Lifeschool. Intip finishing setelah diisi furniture dan diganti catnya ya:


Saga Creative Park masih terus bebenah. Kondisi pembangunan hari ini baru di titik perapihan. Mohon doa ya teman-teman semoga SAGA Lifeschool bisa eksis dan menebar manfaat lebih luas. Aamiin. Ohya jangan lupa disave ya hasil karya kamu. InsyaAllah bermanfaat untuk "menggambar cita-cita".


Menggambar Mimpi

 Hari ini saya ingin membagikan cerita mengenai menggambar mimpi. Dulu, sebelum tahun 2000-an, ketika masih menggunakan seragam putih abu, saya mulai mengenal organisasi. Secara umum, para instruktur meminta kita sebagai peserta untuk menggambarkan mimpi. Ada yang menggunakan tulisan, gambar, atau pun celoteh lisan. Menggambar mimpi dari tahapan sederhana sampai bisa dibagi menjadi tahapan paling mudah dijalani sampai tujuan terbesar dalam waktu tempuh lebih lama. Menggambar mimpi menjadi begitu biasa saya dengar dan biasa menjadi strategi paling manjur dalam merencanakan program-program dalam hidup saya. Hingga saat ini saya masih membersamai Jingga Lifeschool yang telah bertransformasi menjadi SAGA Lifeschool pun, menggambar mimpi masih menjadi kebiasaan saya.

Bersyukur pada akhirnya saya mengenal beberapa perangkat di internet untuk memudahkan saya memvisualisasi mimpi setelah ide besar tertuang dalam banyak jaring laba-laba, tabel timeline, dan diskusi seru di antara para pejuang di SAGA Lifeschool. Perangkat atau aplikasi tersebut dapat dipergunakan secara gratis dan mudah menggunakannya. Di ponsel saya menggunakan Roomplanner dan di web saya memilih homeplanner.com/floorplan. Insyaallah pada tulisan selanjutnya saya akan menjelaskan cara menggunakan keduanya.

Mimpi tim SAGA Lifeschool yang saya gambarkan sedikit-sedikit mulai berbentuk. Mengenai kendala proses memiliki tanah tersebut tentu tak terhitung dan belum selesai. Namun, semoga ketika tulisan ini dibaca lagi, lahan tersebut sudah selesai tahap pemindahan kepemilikannya. Tinggal maksimalisasi pemanfaatannya. Aamiin.

Sebagai informasi, perangkat yang saya gunakan untuk menggambar kali ini adalah homeplanner.com. Lokasi bangunan di Saga Creative Park yang posisinya di jalan raya perjuangan, beberapa ratus meter setelah SMP Al Manar dan tepat di depan lapangan. 70% lahan dipergunakan untuk ladang sayuran dan bangunan hanyalah aula dan pos jaga. 



Anyway, silakan mampir ya teman-teman. Semoga ada hasil panen yang bisa dibawa pulang ketika ke sana. Temui saja Pak Dani, beliau person in charge di ladang. Yang bertugas mengurusi ladang. Tangan telatennya berhasil menumbuhkan berbagai sayuran di sana. Beliau akan sangat senang menerima tamu dari yang sekadar ngobrol, numpang selfi, sampai yang mau ikutan panen; dari yang sendiri, sampai yang bawa tetangga.



Friday, November 27, 2020

Ruang Bahagia

Untuk nafas yang masih tersisa, mari kita sisakan sebuah ruang untuk berbahagia. Sesulit apa pun kondisi yang kita alami, jangan beri makan keputusasaan dan amarah. Keputusasaan menjadikan kita manusia tapi zombie, dan amarah menjadikan kita zombie tapi manusia. Manusiawi keduanya ada pada manusia, baik putus asa maupun amarah. Namun, sebagai insan beriman, kita harus ingat apa yang Allah kehendaki dari kita dalam setiap situasi bahkan pada keadaan yang paling berat sekalipun. Yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat. Itulah ruang bahagia kita. Perbesar pendar pertolongan Allah, maka kepekatan masalah akan terurai berganti dengan terang. Bagi saya saat ini, SAGALifeschool adalah satu dari sekian banyak ruang bahagia.

Ketika muncul pertanyaan seorang hamba, “Dimanakah pertolongan Allah?” Kalimat tanya tersebut tercetus bukan karena putus asa. Namun, keletihan yang begitu meraja hingga logika memprediksi buntunya jalan keluar. Itulah sebab pertanyaan tersebut mengalir dari bibir seorang muslim. Ketika pertanyaan itu hadir, sebenarnya jalan keluar sudah sangat dekat. Jalan yang tidak layak disandingkan dengan perjuangan yang kita usahakan. Jalan yang lebih lapang dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Jalan yang dibuka ketika perjuangan sudah sampai titik nadir. Seperti halnya Jingga Lifeschool, Saga Lifeschool pun mengalami keadaan ini.

Terlepas dari detail mengenai segala sesuatunya, SAGALifeschool mengingatkan bahwa meyakini pertolongan Allah adalah ruang bahagia yang hakiki. Membuat kebahagiaan kecil di mana-mana dan menyebarkannya adalah ruang kebahagiaan lain. Menciptakan suasanan saling membahagiakan menjadi obat bagi pusaran kesedihan yang tak seharusnya merenggut sari wajah kesyukuran seorang hamba. Masih banyak hal-hal luar biasa yang harus disyukuri. Nyalakan ruang bahagia kita dan rasakan kehangatannya.

Tidak usah menunggu titik balik dan membayangkan “Bagaimana jika”, karena tentu saja kita tidak akan mendapatkan bahagia sejati dari itu semua. Pengandaian menuntun kita pada tuntutan yang tak bertuan. Sebuah kondisi yang malahan membuat carut marut masa depan. Insyaallah dengan mencukupkan diri dengan segala kehendak Allah dan mengiktiarkan yang terbaik yang kita punya, kepekatan masalah menjadi tak masalah lagi. Biidznillah.

Teruslah Berubah

Kita selalu berubah. Setiap saat kita mengalaminya. Kita berubah dalam hal baik kadang juga terkontaminasi hal yang tidak baik. Pasti ada alasan di balik semua itu. Lain waktu kita tidak percaya akan hal-hal yang terjadi. Di luar dugaan. Berkali-kali. Ada juga saatnya kita begitu tenang menerima berbagai hal dalam hidup, lalu konstan merespon dengan hal-hal yang kita yakini baik. Setidaknya itu yang saya amati selama ini. Beberapa fenomena pun diolah dan direspon sesuai dengan kaykinan akan pertolongan Allah. SAGA Lifeschool berusaha menjadi institusi yang berani berharap bahwa perubahan ini akan menggiring kita pada kebaikan. Ya. Lagi-lagi selama kita yakin Allah pasti menolong kita.

Dua tahun belakangan, dunia mengalami perubahan signifikan. Manusia dari segala penjuru dunia merespon dengan berbagai cara. Respon tersebut akhirnya melahirkan beberapa perubahan yang sifatnya sementara. Ketika perubahan tersebut menggiring kita pada karakter, maka perubahan itu akan menjadi perubahan jangka panjang menuju sebuah peradaban dengan karakter baru. Inilah sebab, SAGA Lifeschool memberanikan diri untuk tegak berdiri menghadapi perubahan global. Semoga semua hal baik yang dilakukan selama masa ini menjadi tabungan dalam pembangunan karakter positif. Karakter pejuang. Fasilitatornya pejuang, muridnya pejuang, wali muridnya pun demikian.

Alhamdulillah ketakutan yang sempat mencekam hingga ke sudut-sudut terpencil dunia mulai memudar. Manusia dari seluruh penjuru dunia mulai dapat merespon dengan baik keadaan ini. Apa pun bentuk pemikiran yang menguasai mereka, tampak individu dan kelompok saling support untuk kembali berdiri. Menghitung kekuatan dan menyusun langkah pasti untuk kembali berdiri. Bukan. Bukan abai. Tapi seperti halnya SAGA Lifeschool, mereka berusaha melanjutkan kehidupan. Meyakinkan diri, bahwa ini bukan mimpi buruk melainkan sebuah keadaan yang membutuhkan semangat berbuat lebih hebat agar perubahan ini mengarah pada takdir yang baik.

Mari kita namakan masa ini sebagai fase perjuangan bab kesekian. Sejatinya kehidupan selain berhadapan dengan perubahan, semua insan dihadapkan pada medan juang. Berat ringannya tergantung bagaimana insan tersebut menyematkan identitas dalam dirinya. Merek yang bermimpi besar pasti menghadapi bentuk perjuangan yang tidak sederhana. Mungkin bagi sebagian orang, dirinya bukan siapa-siapa. Tapi, ketika ujian yang diterima begitu hebat, sebenarnya ia lebih hebat dari apa yang dipikirkannya. Ada hal-hal hebat yang tidak tertangkap indera ketika ujian menyapa. Tugas kita sebagai insan beriman adalah saling mengingatkan, bahwa ini adalah satu fase yang harus kita hadapi. Allah sudah siapkan jalan keluar bagi kita. Dari arah yang tidak dapat kita kira-kira. Tugas kita yakin dan berusaha.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...