Showing posts with label metode pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label metode pembelajaran. Show all posts

Monday, November 2, 2015

Edutrip Jingga, Satu dari 1000 Jalan menuju Ridha-Nya

~ “Di setiap kebangkitan pemudalah pilar­nya. Di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al Banna)~

Pemuda. Satu generasi yang harus kita persiapkan menghadapi masa depan. Mereka adalah kumpulan individu yang harus siap menghadapi tantangan dunia (yang katanya kejam), siap mempertanggungjawabkan kiprahnya kelak di hadapan Allah SWT (al akhirat) dan mampu membaca peta kehidupan (propaganda musuh Allah membuat kondisi seolah al haq dan al bathil kian tipis makin harinya).
Menjelajah dan belajar dari kehidupan.
Pemuda. Satu generasi yang akan menjadi khalifah fil ardh. Mereka yang mengembangkan potensi diri sebagai tools yang ter-install dalam diri untuk menjalankan segala amanah yang diberikan, utamanya sebagai muslim.
Pemuda. Merekalah yang akan kami sertakan pada rangkaian kegiatan edutrip. Sebuah safar yang akan membentuk kepribadian, membuka mata dan hati tentang peta kehidupan, menjalani proses dengan mengalami putaran kehidupan di luar zona nyaman.
Tetap ceria walau delay 4 jam.
Mungkin ada yang beranggapan, bahwa perjalanan ke luar negeri akan membuat mereka kehilangan nasionalisme. Mungkin ada juga yang berpikir bahwa perjalanan tersebut akan menghambur-hamburkan uang, atau berpikiran bahwa perjalanan itu akan membuat mereka berangan-angan terlalu jauh. Bisa jadi muncul dalam pemikiran kita bahwa perjalanan tersebut adalah bagian dari masa bersenang-senang. Tak ada yang salah dengan anggapan-anggapan tersebut karena anggapan apa pun bergantung dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing kita.
Izinkanlah kami berbagi pemikiran tentang edutrip. Kami yang masih sangat hijau sebagai Sekolah Alam, mencoba untuk menyelenggarakan pembelajaran langsung dengan mengalami petualangan yang sarat dengan pembelajaran:

1.    Pembentukan karakter.
-       TangguhKita harus mampu tangguh untuk survive. Bertahan adalah keterampilan yang harus  dipelajari dan dimiliki dalam tiap tahapan perjalanan dalam Edutrip. Kita harus mengalahkan rasa takut, berusaha kuat untuk memegang prinsip, dan bersikap bijak dalam menyelesaikan masalah yang mungkin muncul selama perjalanan.
Hanya mencari yang Halal.
Makan apa adanya yang penting halal :D
Menyiapkan makan untuk seluruh peserta.
-       MandiriTak ada yang melayani malahan harus melayani. Sebelum mampu melayani orang lain, semua individu dalam edutrip harus mampu memanage keperluan pribadinya dengan baik tanpa melukai hak saudaranya.
-       Empati. Sesi-sesi perenungan dan pengambilan hikmah perjalanan diarahkan pada pembentukan karakter yang mampu merasakan apa yang orang lain rasakan.
-       Itsar. Tingkat tertinggi dari ukhuwah akan teruji, terlatih, dan terasah dalam sesi perjalanan. Egoisme akan terdeteksi dan luntur secara alami karena kelekatan hubungan akan terjalin dengan sendirinya. Perlahan namun pasti, mereka mulai mendahulukan kepentingan sahabat seperjalanan.
-       Cekatan dan sigap.  Kondisi di perjalanan jauh dari nyaman. Sekali pun fasilitas yang digunakan terasa lebih baik, namun kita dituntut untuk mawas diri dan selalu ingat jadwal yang telah disusun juga target yang telah dicanangkan bersama.
Perkiraan biaya perjalanan dan biaya hidup
harus diperhitungkan dengan cermat
-   Teliti dan cermatTeliti dalam memperhitungkan dan cermat membaca peluang untuk memperkirakan budget perjalanan. 
-       Bijaksana. Ada hal baik dan tentu ada hal buruk yang ditemukan selama perjalanan. Kita akan mampu memetik kebaikan dan menjadikan segala pengalaman sebagai pembelajaran
-       Sholeh. Inilah tujuan utama perjalanan. Mereka tak putus dari zikir selama berjalan. Selalu berdoa dan menyadari bahwa Allah begitu kuasa. Semakin kuat keyakinannya, semakin besar rasa syukurnya telah dijadikan sebagai seorang muslim.
Tersesat entah yang keberapa kali dan hampir tak ada
yang bisa berbahasa inggris.
-    BeraniKeberanian akan dengan sendirinya muncul dalam diri tiap peserta. Keberanian itu mendominasi diri sebagai mode pertahanan setiap makhluk di tempat yang asing. Mereka akan mampu mempertahankan diri dengan baik, mereka akan memompa keberanian bertanya, bicara, dan memberi saran karena perjalanan ini kita lakukan bersama. Sekali pun tersesat, peserta harus berani mengambil resiko mengubah jalur perjalanan dan engendalikan diri.
-   Self Driving. kemampuan men-drive diri untuk menemukan pintu keluar dari kesulitan yang dihadapi. Inilah yang disebut sebagai kemampuan metakognisi. Ketika kita nyasar di wilayah baru yang asing, dan sendirian, kira-kira apa yang bisa kita lakukan.
-   Syukur. Peserta Edutrip menjadi pribadi yang akan sangat bersyukur dengan apa yang dimiliki dan menghargai rejeki yang diterima. Syukur ini muncul juga dari pembiasaan mencari sisi positif dari setiap pengalaman yang langsung mereka rasakan.

2.    Membaca kaidah Islam secara nyata.
-       Allah menciptakan berbagai bangsa untuk saling mengenal
-       Kebaikan dan kejahatan selalu memiliki pengikut.
-       Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan al haq yang tak terorganisir.
-       Tata aturan Allah SWT bersifat universal. Sifat Ar rahman nampak dalam sebab akibat kepada semua makhluk Allah.
-       Safar adalah bagian dari pembelajaran yang sudah dijalankan oleh Rasulullah. (tahapan selanjutnya, peserta membawa “misi perdagangan”).
Teratur dan canggih. 
Transportasi ini 
menjadi inspirasi bagi masa depan.

3.    Menjadi bagian dari solusi.
     Hadir dari keprihatinan tentang negara yang dikunjungi atau mengenai negri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan menggerakan hati mereka untuk berfikir juga berbuat. Minimal memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pribadi.
Sesi insight selalu kami lakukan setiap kembali ke penginapan atau di tempat lapang tempat peserta leluasa untuk sharing.

Itulah sekelumit hal yang bisa kami bagi pada rekan semua. Jingga, SekolahAlam yang baru belajar bertunas ini berusaha menyajikan pembelajaran terbaik bagi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya. Alami dan renungkan. Temukan jawaban dan lakukan. Semoga apa yang telah kami lakukan menjadi penyebab bagi pembentukan kepribadian baik dan kuat. Semoga Allah SWT menjadikan program ini wasilah menuju keridhaan-Nya

Monday, August 17, 2015

Manajemen Masjid dan Para Penghapal Al Quran

Sumber gambar: www.ydsf.org
Masjid berasal dari kata sajada bermakna tempat sujud/sholat. Masjid bukan milik pribadi, tapi milik bersama yang harus diurus secara bersama-sama dengan kerjasama yang baik.

Secara ideal, definisi masjid seperti yang disampaikan di atas itu. Menjadi tempat shalat dan dikelola bersama-sama. Namun, saat ini  banyak kita temukan masjid-masjid yang dibangun untuk prestise dan menjadi milik pribadi. Masjid dikunci dan digunakan untuk sebagian kepentingan dari sebagian kelompok. Bahkan, ada masjid yang dibangun dengan misi terpendam, yaitu menghadirkan kegelisahan, ketakutan, keterancaman. Bahkan ada yang memang ditujukan untuk memecah belah ummat. Sayang sekali, masjid jenis ini dinamakan oleh Rasulullah sebagai Masjid Dhirar yang keberadaannya harus dihancurkan. Namun, fokus tulisan saya kali ini adalah untuk menyampaikan kembali fungsi masjid seharusnya.

Masjid dalam banyak literatur difungsikan Rasulullah sebagai tempat:

a) berkonsultasi dan berkomunikasi tentang keislaman dan kehidupan sehari-hari
b) berdakwah atau syiar agama Islam
c) mentranformasi ilmu pengetahuan atau tempat pendidikan
d) berkontak sosial
e) latihan militer
f) perdamaian dan musyawarah
g) pusat penerangan, peradaban dan kebudayaan Islam
h) tempat pengobatan
g) lain-lain.

Menelusuri kembali kejayaan Islam, ada baiknya kita kembali menghidupkan dan memfungsikan masjid sebagai mana Rasulullah mencontohkan. Ini juga yang menjadi kunci kebangkitan umat. Siapa yang akan menjalankan? Tentu bukan Remaja Masjid yang dari penamaannya saja sudah kurang tepat. Sedikit informasi, di dalam Islam, pembagian usia secara umum adalah pra akil baligh dan akil baligh (akil terkait kemampuan mentalnya untuk mengemban tanggung jawab pribadi juga sosial dan baligh adalah masa pubertas). Posisi manajer untuk pengelolaan masjid sebaiknya ada di tangan Para Penghapal Al Quran.

Para Hafidz ini ditempa di pesantren atau lembaga penghapa Al Quran. Mereka selayaknya juga diajarkan metode manajerial masjid. Mengapa? Jawabannya, karena merekalah manusia penjaga kalimat Allah. Mereka menghapal Quran (dan sebaiknya) juga mengimplementasikan hapalannya akan tata aturan Ilahiah itu dalam kehidupan. Tata kehidupan yang real ada di masyarakat dan pusat kehidupan masyarakat muslim (seharusnya) adalah masjid.

Berikut ini materi manajemen yang perlu diajarkan di pesantren-pesantren penghapal Al Quran:
a. Manajemen Bangunan
b. Manajemen Kepengurusan
c. Manajemen Kepemimpinan
d. Manajemen Kesekretariatan
e. Manajemen Keuangan
f. Manajemen Dana dan Usaha
g. Manajemen Pembinaan Jama’ah
h. Manajemen Kesejahteraan Umat
i. Manajemen Pembinaan Pemuda

Semoga tulisan ini menginspirasi kita untuk berbuat lebih banyak lagi. Aamiin. Point-point yang saya sebutkan di atas akan dibahas pada tulisan selanjutnya inshaAllah.

Referensi: https://www.academia.edu/9850276/Manajemen_Masjid

Tiga Hal Mendasar dalam Menyelenggarakan Pendidikan

Sebuah ceramah di YouTube menyentakku. Judulnya The Secret of  Knowledge. Kurang lebih isi ceramah singkat ini yang berdurasi 03:26 menit ini mengingatkan bahwa tujuan manusia menjadi berpengetahuan adalah "Taqwa". Kadar "berpengetahuan" seseorang terlihat dalam tindakan dan sikapnya. Pilihan sikap dan tindakan yang diambil kemudian menjadi refleksi kedalaman pengetahuan (ilmu)-nya.

Sumber: https://www.facebook.com/SAJinggaBekasiUtara 
Lantas, apakah lembaga pendidikan yang telah memberikan porsi pengetahuan agama telah sukses menjadikan seorang anak menjadi insan yang bertakwa seperti banyaknya spanduk-spanduk sekolah yang mencantumkan hal ini sebagai visi misi? Apakah saat ini generasi yang dititipkan di lembaga tersebut mencerminkan limpahan materi pelajaran yang diberikan selama bertahun-tahun? Terlihat berbahagiakah mereka dengan tahun-tahun yang mereka lalui selama menimba ilmu di sekolah? Tidak. Sungguh tidak. Sepupu dan beberapa ponakan yang dititipkan di pesantren jika pulang ke rumah membuat hati keluarga gundah gulana. Shalat kesiangan, senangnya main hape dan tidur sepanjang hari di kamar, cuek dengan kebersihan sekitar, dan memilih menggunakan pakaian "gaul" yang jauh dari kebiasaan harian selama di pesantren. Entah di mana letak errornya. Bab ini akan dibahas oleh orang yang pandai menganalisa. Saya tak begitu lihai soal ini. Tapi sebagai individu merdeka saya ingin berpendapat di sini. Jadi, tulisan ini bersifat subjektif walau saya akan menampilkan beberapa data yang membuat kesimpulan subjektif itu muncul.

Digested, processed, personalised. Itulah 3 kata kunci sebuah lembaga pendidikan sebaiknya. Instalasi pengetahuan menuju takwa idealnya meliputi Penggalian, Pemrosesan, dan Pembentukan Pribadi.

Penggalian. Benar dan salah memang doktrin. Namun, untuk mengetahui itu semua siswa diharapkan menggali informasi secara mendalam dan detil hingga mereka mendapatkan manuskrip Al Haq sebagai bagian dari perjalanannya sebagai pembelajar.

Pemrosesan. Ada kalanya doktrin berbenturan dengan logika manusia yang berkembang seiring kemajuan zaman. Siswa sebaiknya masuk dalam sebuah tahap transformasi secara normal, bukan hanya normatif. Mereka melibatkan diri dalam area penerimaan informasi yang dikemudian hari akan menjadi prinsip hidup.  Tentu saja tahapan ini tak mudah. Bukankanh menjadi "berbeda" adalah hal yang tak nyaman bagi kebanyakan orang? Terlebih pada fase remaja, manakala ia butuh eksistensi dan pengakuan dari kelompok sebaya (peer group) juga lingkungan.

Pembentukan Pribadi. Seperti yang dikatakan Abdullah Ibn Mas'ud yang dikutip oleh ceramah yang saya sebut di atas, bahwa "Real knowledge is what reflects in your action". Butuh waktu yang tak sebentar untuk membiasakan hal-hal baik dalam diri manusia. paling cepat 3 bulan dan sebagian lain membutuhkan waktu 1 tahun. Kebiasaan baik bermula dari pengetahuan yang bertransformasi menjadi prinsip hidup. Inilah raport yang tak bisa direkayasa. Raport hidup dari sebuah lembaga pendidikan terlihat dalam kepribadian anak didik.

Jadi, apakah 3 proses itu sudah dijalankan oleh kebanyakan lembaga pendidikan di negara yang kita cintai ini? kalau belum, kita mulai yuk untuk menerapkannya. Bersama-sama menjadi lebih mudah.

Jika Anda adalah orang tua, maka yang harus diingat bahwa tanggung jawab pendidikan terbesar berada di tangan Anda bukan di pundak lembaga pendidikan. Namun, memilih lembaga pendidikan yang tepat adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Jika Anda adalah pendidik, maka yang harus diingat adalah target pendidikan bukan menjadikan anak "pandai" namun berakhlak. Tahapan ini pun tak bisa dibilang mudah. maka, bekerjasamalah dengan orang tua untuk memantau dan membimbing mereka.

Thursday, March 5, 2015

Writing Project Stage #1

Saya dan sahabat guru di Jingga sedang menargetkan diri menulis dalam sebuah project penulisan.  Kami membuat grup whatsapp dan sharing untuk saling memompa semangat juga mengubah paradigma tentang menulis.

Nih, rangkuman chat yang membahagiakan itu. Ohya,  grup kami terdiri dari beberapa guru hebat di Jingga yang saya rasa sangat disayangkan jika kejadian-kejadian luar biasa sarat makna ketika mengajar itu terlewat begitu saja tanpa diikat dalam kata-kata.

Cekidot yuk:
Teman-teman, grup ini kita buat karena ada project penulisan yang akan kita selesaikan dalam 45 hari. Itu target saya. Mohon maaf deadline ini tidak bisa ditawar karena kita akan mengubah paradigma tentang menulis yang tadinya agk "horor" menjadi:
1. Menulis itu semudah bicara.
2. Menulis itu menyenangkan
3. Menulis itu menyembuhkan dan menginspirasi
4. Menulis itu amal shaleh yang manfaatnya mengalir berketerusan.
5. Menulis itu meningkatkan harga diri dan "nilai jual"
6. Menulis itu menularkan virus-virus kebajikan
7. Menulis itu bisa bikin kaya

Di atas itu pancingan saya dan inilah sahutan-sahutan dari teman-teman guru:

8. Menulis itu sarana kita menjadi pribadi yang jujur.
9. Menulis itu adalah mengikat ilmu
10. Menulis adalah cara untuk mentransfer apa yang kita miliki
11. Menulis itu muara ide yg  tak tersampaikan oleh lisan.
12. Menulis untuk keabadian.
13. Menulis adalah bukti eksistensi kita di dunia ini
14. Menulis adalah salah satu dari batubata peradaban
15. Menulis tu curhat
16. Menulis adalah kunci untuk menaklukkan dunia
17. Menulis itu kata yang tak terucap
18. Menulis itu adalah cara menyampaikan ide kita dan mewariskan ide kita
19. Menulis itu menyambung kata
20. Menulis itu ibarat roaler coaster yang bisa membuat emosi campur aduk
21. Menulis adalah menggambar kata.
22. Menulis adalah cara curhat
23. Menulis adalah ungkapan kegalauan
24. Menulis itu budaya orang berilmu
25. Menulis adalah ibadah
26. Menulis itu dakwah.
27. Menulis bisa buat kita nangis tersedu2.
28. Menulis itu meronce kata
29. Menulis animasi kata.
29. Menulis jembatan imajinasi.
30. Menulis sarana mengungkapkan rasa rindu
31. Menulis dimensi lain dari kehidupan seseorang.
32. Menulis bisa buat kita bahagia...
33. Menulis adalah mikir
34. Menulis sarana menuju surga.
35. Menulis menyenangkan
36. Menulis itu keren
37. MENyUsun kaLImat agar lbh puitIS.
#akronim maksa
38. Menulis bisa mengantar ke pelaminan #eh
39. Menulis adalah mengungkapkan apa yang tidak mampu diungkapkan oleh lisan.
40. MENU dari LISan yg tersurat.
#mulai panas otaknya
41. Menulis itu bkin ketawa Sndiri *maksa
42. Menulis itu dialog pasif
43 MENgungkapkan Unek2 tanpa LISan.
44. Menulis sarana mengungkapkan perasaan...
45. Menulis itu jelajah dunia
Tuh.... keren kan ide mereka? Coba kalau tiap 5 statement jadi 1 bab. Pasti akan lebih keren dan jadi buku deh.
Kita tunggu karya mereka ya. :-D InsyaAllah April akan ada kejutan. 

Tuesday, September 30, 2014

PAUD dan Daycare Little Oren: Sebuah Mimpi

Mimpi kami adalah menyelenggarakan daycare dengan pola pendidikan PAUD. Awalnya kami nakana Little Jingga tapi sekarang menjadi Little Oren. Semoga tidak berubah lagi ya ;) hehe... Selamat membaca dan jangan lupa mendoakan kai ya...

Pendahuluan
Usia dini adalah masa yang penting, karena pengalaman yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang. Awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam memberikan dorongan atau upaya pengembangkan agar anak dapat berkembang secara optimal.  Oleh karena itu pada masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi program stimulasi, bimbingan, pengasuhan, dan kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan berbagai potensi melalui lembaga pengembangan kurikulum.

Ruang lingkup kerangka pengembangan kurikulum pendidikan anak usia dini juga meliputi kegiatan Non Formal, yaitu :
a. Taman Penitipan Anak
TPA adalah salah satu bentuk PAUD ini jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak usia 6 bulan sampai dengan usia 6 tahun.
b. Kelompok Bermain
Kelompok bermain adalah salah satu bentuk PAUD jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 2 sampai 6 tahun
c. Satuan PAUD Sejenis/SPS
Satuan PAUD Sejenis adalah salah satu bentuk PAUD jalur pendidikan non formal selainTPA dan KB.

Bermain bagi anak usia dini adalah belajar yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/ kepuasan bagi diri anak. Adapun manfaat bermain, antara lain:
• Memberikan kesempatan untuk mencoba hal baru melalui eksplorasi dan penemuan dalam belajar melalui bermain.
• Mengaplikasikan kenyataan dalam representasi simbolis
• Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah
• Mengembangkan rasa egosentris ke rasa sosial
• Belajar bekerjasama dengan teman sebaya atau anak lain melalui bermain kooperatif.
• Mengembangkan kreativitas

Melalui upaya ini anak akan memperoleh sejumlah pengalaman belajar secara langsung (real learning), bermakna (meaningfull) dan konstruktif. Oleh karena itu, Sekolah Alam Jingga memandang perlunya dibuat sekolah untuk anak usia dini yang selanjutnya akan kami sebut Little Jingga Preschool and Daycare.

Ide dasarnya adalah pendidikan pada anak dilakukan dengan mengajak anak dalam suasana sesungguhnya melalui belajar pada lingkungan alam sekitar yang nyata. Bentuk pengajaran ini dilakukan sebagai upaya menentang bentuk pengajaran yang cenderung intelektualisme dan verbalistik. Melalui bentuk pengajaran ini akan tumbuh keaktifan anak dalam mengamati, menyelediki serta mempelajari lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesungguhnya juga akan menarik perhatian spontan anak sehingga anak memiliki pemahaman dan kekayaan pengetahuan yang bersumber dari lingkungannya
sendiri. Bahan-bahan pengajaran yang ada pada lingkungan sekitar anak akan mudah
diingat, dilihat, dan dipraktikan sehingga kegiatan pengajaran menjadi berfungsi secara
praktis.

Dasar Filosofis
Filosofis dasar Little Jingga yang pertama adalah pandangan bahwa kegiatan pendidikan (sekolah atau kurikulum) harus dapat membantu anak mengembangkan berbagai potensi perkembangan yang dipergunakan untuk beradaptasi secara kreatif dengan lingkungan alam.

Filosofis pendidikan berikutnya adalah bahwa kegiatan pembelajaran yang berbasis pada
lingkungan alam akan membantu menumbuhkan otoaktivitas atau Autoactivity (aktivitas
yang tumbuh dari dalam diri) anak sehingga dimungkinkan terjadi proses active learning
(belajar secara aktif).

Filosofis ketiga dalam pembelajaran berbasis alam adalah pandangan bahwa lingkungan
alam akan memberikan sejumlah pengalaman belajar langsung (real learning) dan/atau
pembelajaran secara nyata (real instructions).

Filosofis keempat, konsep pembelajaran berbasis alam akan memberikan suasana atau
kesempatan pada anak untuk mengembangkan kepekaan, kepedulian atau sensitivitas
terhadap berbagai kondisi lingkungan alam.

Filosofis kelima, konsep pembelajaran berbasis alam akan membantu anak memperoleh
proses dan hasil belajar yang bermakna (meaningfull learning) serta pembelajaran yang
fungsional praktis (practical and functional intruction).

Pendekatan dalam Pembelajaran
Beberapa pendekatan yang dapat dijadikan rujukan dalam pembelajaran di Little Jingga
dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :

1. Pendekatan Pedosentris (Paedos berarti kesanggupan atau kemampuan anak, sentries
artinya berpusat) sering dikenal dengan learner centered yakni cara memandang
kegiatan pembelajaran yang bertumpu atau bertitik tolak dari kesanggupan atau
kemampuan anak sebagai individu yang belajar. Bahan atau materi pembelajaran dapat diperoleh anak dari sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.
2. Pendekatan Child Centered meyakini bahwa murid atau anak memiliki kemampuan
sendiri melalui berbagai aktivitas dalam mencari, menemukan, menyimpulkan serta
mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai.
3. Pendekatan Discovery (penemuan) dikenal juga dengan istilah pendekatan penemuan. Pendekatan ini mempunyai cara pandang yang memusatkan kegiatan pembelajaran pada upaya atau aktivitas anak didik untuk menemukan sendiri berbagai aspek pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai melalui berbagai pengalaman yang dirancang dan diciptakan guru.
4. Pendekatan Proses dalam pembelajaran berbasis alam mengisyaratkan bahwa kegiatan
pembelajaran lebih mengedepankan pentingnya proses belajar sebagai proses pemerolehan berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan oleh anak sendiri.
5. Pendekatan Kongkrit merupakan cara pandang dalam proses pembelajaran yang lebih
mengupayakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan proses yang kongkrit.
Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran akan diupayakan sedemikian rupa
sehingga menjadi suatu yang kongkrit bagi anak, terutama menjadi hidup dalam
kehidupan sehari-hari.
6. Pendekatan Tematik merupakan suatu cara pandang dalam menyelenggarakan
pembelajaran yang menggunakan berbagai konteks dalam kehidupan anak sehari-hari.
Konteks itu sendiri terdiri dari benda, peristiwa, keadaan atau pengalaman yang berada
dalam kehidupan sehari-hari dan mungkin dialami oleh anak pada suatu waktu.

Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran berbasis alam di Little Jingga adalah:
1. Circle Time adalah salah satu metode belajar yang dapat digunakan dengan membuat formasi setengah lingkaran dimana guru dengan anak dapat berinteraksi secara langsung.
2. Metode proyek merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang menghadapkan anak
     pada persoalan sehari-hari yang ada dan harus dipecahkan baik secara individu
     maupun berkelompok.
3. Metode penemuan terbimbing lebih menekankan pada pengalaman belajar agar anak
     dapat menghasilkan pemecahan khusus, agar anak mampu menghubungkan dan
     membangun konsep melalui interaksi dengan orang lain dan objek.
4. Metode diskusi yaitu menunjukan interaksi timbal balik antara guru dan anak, guru
     berbicara kepada anak berbicara pada guru, dan anak berbicara dengan anak yang
     lainnya.
5. Metode demonstrasi melibatkan satu orang anak untuk menunjukan kepada anak yang
     lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan. Guru
     menggunakan metoda demonstrasi untuk menggambarkan sesuatu yang akan
     dilakukan oleh anak.
6. Belajar kooperatif (Cooveratif learning) dapat diartikan anak-anak bekerjasama dalam
     kelompok kecil setiap anak dapat berpartisipasi dalam tugas-tgas bersama yang telah
     ditentukan dengan jelas tidak terus menerus dan diarahkan oleh guru melalui belajar
     kooperatif melibatkan anak untuk berbagi tanggung jawab
7. Metode eksploratori, metoda ini memungkinkan anak mengembangkan penyelidikan
     langsung yang berjalan dengan langkah-langkah sendiri, membuat keputusan apa yang
     telah dilakukan, bagaimana melakukannya dan kapan melakukannya melalui prakarsa
     sendiri anak meneliti orang, tempat, objek, peristiwa, sehingga anak dapat membangun
     pengetahuannya sendiri.
8. Metode problem solving (pemecahan masalah)
     Pemecahan masalah merupakan suatu metoda yang memberi kesempatan kepada anak
     untuk memecahkan masalah sederhana melalui kegiatan merencanakan, meramalkan,
     membuat keputusan, mengamati hasil tindakannya.
9. Museum Anak (Child Museum)
     Museum anak yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang dilakukan anak melalui
     kegiatan pengumpulan benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya dan memamerkannya.

Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan, Little Jingga melakukan proses pembelajaran berbasis alam dengan memperhatikan sejumlah prinsip yang mendasarinya. Prinsip-prinsip yang dimaksud di antaranya adalah :
1. Berpusat pada perkembangan anak dan optimalisasi perkembangan
2. Membangun kemandirian anak
3. Belajar dari lingkungan alam sekitar
4. Belajar dan bermain dari lingkungan sekitar
5. Memanfaatkan sumber belajar yang mudah dan murah
6. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik
7. Membangun kebiasaan berpikir ilmiah sejak usia dini
8. Pembelajaran inspiratif, menarik, kreatif dan inovatif
9. Memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara aktif (active learning).

Sekolah Alam Jingga Tingkat Menengah menggunakan Kurikulum Nasional dan kekhasan Jingga, yaitu menekankan pada 5 Konsep Dasar:
1. Akhlak & Leadership
2. Bisnis & Lifeskills
3. Seni & Kreatifitas
4. Lingkungan & Konservasi
5. Logika & Pengetahuan



Menemukan Bakat dan Minat melalui Banyak Kegiatan

iseng-iseng kopi paste isi email. semoga bermanfaat.

Tanya:
Mau tny dgn yg prnh ibu bilAng,tp sy msh blm pahAm,mohon dijelaskan detailnya ya..mengenai Menemukan bakat dengan memperbanyak aktifitas yg menggunakan potensi diri mereka secara optimal.Dari kegiatan2 itu kita bs lihat dan anak2 pun menilai kegiatan apa yg dia sukai. Lalu kita bantu dengan pemetaan.Kegiatannya studium general tapi anak2 mengembangkan kreasinya pd project.

Trus secara sy sdg mengelola PAUD n TK,sy minta saran n masukan dr bu febi.dgn aq ajukan pertanyaan:jikA bu febi sAat ini mengelolA PAUD n TK,akAn seperti apakah,dan akan dibentuk seperti apakah?Agar pAud yg ibu kelolA ini berhasil memetakan n mengembangkan bakat msg2 anak?apakAh tiap anak kitA mengjarkan berbeda2 sesuai dgn keinginan mrk atau bgmn??

Jawab:
Bismillah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bu Rohmah yang baik, pada pertanyaan pertama saya mencoba menjawab dengan menjelaskan maksud memperbanyak aktifitas. Seperti yang sudah kita dengarkan dari Abah Rama, terkadang ada anak yang mahir pada suatu keterampilan namun tidak enjoy ketika melakukannya maka keterampilan itu adalah lifeskill yang dikuasai namun bukanlah bakat atau minat dirinya.
Contoh, sebut saja anak ini bernama Farrel. Di jingga yang menggunakan pembelajaran berbasis project, dia terlihat mampu mengerjakan barang kerajinan dari barang bekas. Hasilnya bagus, rapi, dan dikerjakan dalam waktu yang cepat. Namun, Farrel tidak menikmati proses belajar tersebut. Dia lebih senang mengajarkan teman-temannya membuat barang kerajinan, membantu mereka dengan ide-ide kreatif, memotifasi kawan-kawannya untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dari miliknya. Dari sinilah kita bisa melihat, bahwa farrel tidak berminat untuk mengembangkan kemampuannya dalam menghasilkan barang kerajinan. Farrel lebih menyukai kegiatan yang langsung bersentuhan dengan orang lain terkait jasa pelayanan, pembimbingan, dan motivasi. Farell lebih berbakat menjadi guru, motivator, atau pun manager.

Di kelas lain, ada anak bernama Anin. Dia senang membuat percobaan pupuk cair untuk tanaman. Dia senang ketika tanaman yang menggunakan pupuknya tumbuh subur, ia merawatnya, dan akhirnya merencanakan penjualan hasil panen tanaman organiknya secara online. Jelas di sini terlihat bakat dan minat Anin.

Baik Farrel maupun Anin melakukan banyak aktifitas untuk mempertajam penilaian kita akan bakat dna minat anak. Anin membuat barang kerajinan dari barang bekas dan Farrel pun ikut membuat percobaan pembuatan pupuk cair. Namun, Anin tak mengembangkan dirinya dalam hal seni dan kreatifitas sementara Farrel mengembangkan namun pada aspek hubungan sosial. Keduanya terlibat dlaam proses yang sama, namun dalam pengamatan kita dapat menemukan tanda ke arah mana bakat keduanya akan berkembang.

Lantas, mengapa harus banyak aktifitas? Mengapa tak kita tajamkan saja di bagian yang menonjol? Sebagai guru, kita sebaiknya memberikan kesempatan anak untuk berkembang secara optimal. Banyak aktifitas yang sepertinya tidak disenangi anak tapi ada sisi-sisi yang dapat dikembangkan seperti kondisi yang Farrel hadapi. Alasan kedua, ada keterampilan dasar yang harus dimiliki anak seperti kemampuan bersosialisai, matematika dasar, kemampuan berkomunikasi, pengetahuan keislaman dan pemahaman aqidah juga pelaksanaan ibadah yang sesuai sunnah. Sekali pun mereka tidak enjoy, kegiatan ini harus diikuti semua siswa dan tugas gurulah untuk membantu anak menginternalisasi nilai dan berlatih untuk menguasai keterampilan-keterampilan dasar tersebut.
Apa saja jenis kegiatannya? Di Jingga untuk level Sekolah Menengah menggunakan Project Based Learning (PBL). Dengan menggunakan metode ini, siswa akan mengalami banyak hal dan mengikuti banyak kegiatan. Topik Sentral diubah menjadi Subject dengan fokus pada 5 hal yaitu: Akhlak dan Leadership, Logika dan Pengetahuan, Seni dan Kreatifitas, Bisnis dan Lifeskill, Lingkungan dan Konservasi.

Soal PAUD dan TK

Benar sekali Bu. Kami di Jingga merencanakan akan membuat PAUD dan TK. inshaAllah namanya adalah Little Oren. Hampir sama dengan ide di atas, anak-anak kita libatkan pada berbagai aktifitas namun disesuaikan dengan level perkembangan usianya. Tak muluk-muluk yang ditargetkan. Berharap kegiatan yang beragam ini menjadi bekal pemilihan dan pemetaan bakat anak. Caranya hanya dengan menggunakan metode bermain, tak lebih. Posisi pengelola adalah sahabat keluarga. Sehingga hubungan yang dijalin bisa selaras. Komunikasikan kondisi anak dan dengar harapan orang tua terhadapnya. Selenggarakan seminar-seminar kecil bersama orang tua agar jalannya pendidikan bisa terwujud dalam visi dan misi yang harmoni.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...