Tuesday, October 29, 2013

Kunjungan dari RA Jingga

Hari ini di Jingga cukup ramai. Adik-adik dari RA Jingga berkunjung, mahasiswa UMJ mengobservasi, Kakak SD 5 meninjau museum, SD 2 dan SD 3 belajar tentang hewan, SD1 belajar kasti dengan peralatan sederhana

Selamat datang adik-adik RA Jingga... Wah, semangat sekali ya!
Wah...sepanjang mata memandang... tempat bermain semua ya!

Jalan di titian... Menyenangkan!
Halang rintang di bawah steger :p
Setelah bermain outbound low impact, cuci kaki dan tangan dulu ya...
Nah, tangan sudah bersih kan? Kita mulai makan snack. Ayo...berbagi ^_^

Sunday, October 27, 2013

Jingga Outbound - Low Impact Session

Low Impact Outbound
Alhamdulillah, siswa Jingga mengikuti Low Impact Outbound yang diselenggarakan secara sederhana di halaman sekolah. Instalasi Outbound tidak perlu mahal, tapi yang terpenting adalah memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mencapai hasil maksimal. Setelah menikmati video Outbound siswa di Jingga, teman-teman dapat membaca pengertian Outbound dalam artikel ringkas di bawah ini.

Outbound training adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Alam Indonesia yang kaya menyediakan sumber belajar yang tidak akan pernah habis digali. Dimensi alam sebagai obyek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya.

Outbound merupakan salah satu metode pembelajaran modern yang memanfaatkan keunggulan alam. Para peserta yang mengikuti outbound tidak hanya dihadapkan pada tantangan intelegensia, tetapi juga fisik dan mental. Dan ini akan terus terlatih menjadi sebuah pengalaman yang membekali dirinya dalam menghadapi tantangan yang lebih nyata dalam persaingan di kehidupan sosial masyarakat.

Kegiatan outbound sendiri bertujuan menumbuhkan dan menciptakan suasana saling mendorong, mendukung serta memotivasi dalam sebuah kelompok. Selain mengembangkan kemampuan apresiasi atau kreativitas dan penghargaan terhadap perbedaan dalam sebuah kelompok juga memberikan kontribusi memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian, keberanian, percaya diri, tanggung jawab dan empati yang merupakan nilai dasar yang harus dimiliki setiap orang. Yang diterjemahkan melalui experiential learning yang akan memberikan pengalaman langsung kepada peserta pelatihan dengan simulasi permainan. Peserta langsung merasakan sukses dan gagal dalam pelaksanaan tugas.

Sisi menarik dari metode pembelajaran outbound adalah permainan sebagai bentuk penyampaiannya. Dalam permainan skill, individu tidak hanya ditantang berpikir cerdas namun juga memiliki kepekaan sosial. Dalam outbound peserta akan lebih banyak dituntut mengembangkan kemampuan ESQ (emotional and spiritual quotient) nya, disamping IQ (intellegent quotient). Metode outbound training memungkinkan peserta dalam aktivitasnya melakukan sentuhan-sentuhan fisik dengan latar alam yang terbuka sehingga diharapkan melahirkan kemampuan dan watak serta visi kepemimpinan yang mengandung nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, toleransi, kepekaan yang mendalam, kecerdasan serta rasa kebersamaan dalam membangun hubungan antar manusia yang serasi dan dinamis.
sumber: http://sekolahalamjogja.wordpress.com/promo/


Belajar Jarak Jauh dengan Skype

Ada ide menarik yang coba saya kembangkan di tengah kesibukan mengembangkan beberapa model kegiatan lain. Yes, Woman Behind The Tank :p
Sebagai pengguna Skype, saya melihat peluang yang cukup baik dalam mengembangkan pendidikan jarak jauh bagi anak-anak yang menolak datang ke sekolah (School Refusal)  atau berhalangan tetap. Bukan hal baru memang, karena layanan ini sudah digunakan oleh masyarakat di Luar Negeri untuk meningkatkan pengalaman belajar mereka. Seperti halnya yang dilakukan oleh Mr. Solarz' di kelasnya. Hal ini juga sudah diterapkan secara sederhana oleh Komunitas Belajar di Qaryah Thayyibah, Salatiga.

Menggunakan Internet untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Sumber: http://hardivizon.com/2008/09/20/ramadhan-di-q-tha/
Sebenarnya tidak usah "ngeri" untuk menggunakan "layanan chating" untuk beljar. Pemegang kendalipenuh adalah guru. Juga ada misi yang kita tanamkan hingga kegiatan mengasyikan itu tetap bermkna dalam membangun pengalaman belajarnya. Lihatlah bagaimana murid di kaki gunung seperti Qaryah Thayibah bisa lebih "menginternasional" dan visioner tinimbang anak-anak di SMP reguler kisaran tengah kota dan agak ke pinggir sedikit.

Yuk, kita intip https://education.skype.com/ sebagai link yang biasa digunakan untuk model pembelajaran yang satu ini. Tertarik? Yuk, kita kembangkan bersama ;)

Pembelajaran Jarak Jauh sebagai Solusi School Refusal

Menolak mengikuti pembelajaran di sekolah rupanya menjadi sebuah gejala yang memprihatinkan. Beberapa hari lalu di sebuah meeting point, saya mendapat informasi bahwa School Refusal dilakukan oleh beberapa siswa kelas 5 dari wilayah tinggal yang sama. Kecurigaan saya muncul dengan beberapa kesamaan identitas ini. Berbagai pertanyaan hadir berkenaan tentang penyebab School Refusal ini.

Terpenting adalah, apakah sekolah kini menjadi tempat yang menimbulkan trauma sebegitu dalam pada diri anak? Apakah yang terjadi setelah ia benar-benar menolak bersekolah? Dapatkah orang tua memberikan solusi konkrit agar anak-anak ini dapat tetap memperoleh pendidikan yang dapat digunakannya dalam kehidupan?

Saya pikir, pihak sekolah dan orang tua harus sama-sama menyelesaikannya. Mungkin dengan memberikan penawaran dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh, masalah ini bisa tertangani.
Saya mencoba mengembangkan model pendidikan yang mirip-mirip Home Schooling. Tentu dengan jadwal School and Home Visit yang disepakati sebagai bentuk kwtwerlibatan anak dengan lingkungan juga timbal balik dengan pihak pendidik (jika tidak terkendala jarak).
  1. Assessment kondisi anak dengan psikolog yang kami rekomendasikan.
  2. Membincangkan hasil assessment dan ajuan program pembelajaran bagi Ananda
  3. Melakukan MoU (Memorandum of Understanding)
  4. Menjalankan program pembelajaran
  5. Evaluasi program
  6. Membincangkan Rencana Tindak Lanjut
  7. Menjalankan Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Hide and Seek is Like Treasure Hunt. Very exiting time to blow up spirit to learn.
Jadi, apa salahnya kita mencoba model belajar seperti ini. Alhamdulillah saya berhasil menyembuhkan School Phobia yang terjadi pada dua buah hati. Mudah saja, buat sekolah yang sesuai dengan kriteria "menyenangkan" dalam benak sederhana kanak-kanak. Keduanya saat ini sangat menikmati proses belajar di Sekolah Alam Jingga. Bagaimana dengan Anda?

catatan: yuk, kita buat pembelajaran jarak jauh menggunakan Skype. Klik di sini untuk info lebih lanjut.

Wednesday, September 4, 2013

Kurikulum 2013 dan Penilaian Hasil Belajar

Sebelumnya minta maaf jika kawan yang datang berkunjung ke sini berharap mendapat info tentang definisi Penilaian Hasil Belajar maupun Kurikulum 2013. Saya tak hendak membahasnya secara teoritis. Maaf ya, soalnya ini blog pribadi #justifikasi malas menulis dengan gaya formal.

Teman, jika ditanya apa ruh sebuah sekolah? Sebagian besar sepertinya akan menjawab kurikulum. pertanyaan lain adalah, apa yang menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan di lembaga pendidikan, jawabannya mungkin Hasil Belajar. Pertanyaan ketiga, apakah alat yang digunakan dalam Penilaian Hasil Belajar valid, teruji, terukur? Ya...standar yang muncul membuat saya sempat gamang. Apakah saya bersama tim kecil di Sekolah Alam Jingga telah memberikan yang terbaik bagi para siswa? Mungkin kegamangan itu muncul karena bermacam standar yang kami pahami sebagai bentuk ideal pendidikan. Ya, pemahaman 'orde lama', bahwa anak yang berhasil adalah mereka yang mudah mencerap pelajaran, memiliki skor tinggi dalam ujian, memiliki cita-cita tinggi dan ambisius mendapatkannya, tekun membaca buku, senang berkompetisi, dan menguasai beberapa bahasa asing.

Ngeri. Apalagi pemahaman kami yang tak seberapa tentang penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas itu kini dihadapkan pada perubahan Kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013. Isu sana sini sempat membuat panik.

Seiring usaha kami untuk tetap "tabah" *hadeuhhh... jalan yang kami pijak mulai memperlihatkan wujudnya. So, yang kami lakukan saat ini adalah;
1. Melengkapi standar yang perlu dimiliki oleh lembaga pendidikan secara administratif. Ini penting untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, seperti jaringan tema, silabus, rpp, bahkan prota dan promes serta kalender pendidikan.
2. Tetap memeilihara tujuan awal mendirikan Sekolah Alam, yaitu menjadikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses belajar karena ianya akan mengembalikan fitrah tujuan penciptaan manusia, yaitu sebagai Khalifah fil Ardh.
3. Tetap konsisten pada ukuran keberhasilan belajar, yaitu perbaikan kualitas secara individual. Tak ada pembandingan dengan anak lain, tak ada pengistimewaan. Semua anak spesial, semuanya hebat dan pintar.
4. Selalu menyiapkan diri untuk mampu beradaptasi dan meningkatan kualitas diri sebagai pengajar.
5. Membuka ruang sebesar-besarnya untuk mengapresiasi keberhasilan dan merevisi kesalahan sebagai manusia yang terus berproses.
6. Struggle bersama tim. Semua yang diawali dengan kebaikan, dikerjakan dari hati bersama orang-orang baik yang kita cintai pasti akan menjadi mahakarya.

Berikut ini surat saya untuk para orang tua di Jingga dan di mana pun berada:
Ayah, Bunda... sesungguhnyalah prestasi itu adalah masa ketika Ananda memahami hakikat hidup dengan benaknya yang sederhana
menjalankan solat dengan kesadaran
mau dan mampu mengantri
tak sungkan meminta maaf ketika bersalah
berinisiatif melakukan perbuatan positif
menggunakan tutur bahasa yang baik juga sopan
memilih melakukan perbuatan jujur ketika peluang berkelit itu terbuka lebar
dan terpenting... berangkat sekolah dengan bahagia
dengan begitu, mereka tak segan berkutat dengan matematika, bahasa, ips, ipa, dan pelajaran yang diujiankan karena mereka paham:
Belajar sejatinya memperoleh pengetahuan yang dengannya mengubah keadaan dari tau menjadi tak tau, dari bisa jadi biasa, dan dari biasa menjadi perubah.

Dzaki and Ghifar our Special Kids
Berbaikan, ya...
Ayash Menangkap Kadal.
Selain kadal seperti ini, anak-anak mulai akrab dengan Yuyu, Soang, dan beberapa hewan lainnya.
Asyik berdiskusi dengan topik 'khas kanak-kanak'.
Kakak SD 5 (Najwa dan Ayash) belajar ditemani guru baru, Pak Khusaini.

Belum sarapan? Buka bekalmu. Nikmati bersama kawan-kawan. Sudah sarapan? Yuk, main puzle dulu.
Maka, ketika ditanyakan kurikulum apa yang digunakan tentu saja Jingga pakai kurikulum yang "sedang direstui" saat iniyaitu 2013. Ukuran keberhasilan belajar kami adalah adanya perbaikan kualitas pribadi pada diri anak dan fasilitator. Ya, kami belajar bersama ^_^

Monday, July 29, 2013

Kecambah

Kecambah atau taoge adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangannya disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan.[1] Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga).[2] Dua kelas dari tumbuhan berbunga dibedakan dari cacah daun lembaganya: monokotil dan dikotil[3]. Tumbuhan berbiji terbuka lebih bervariasi dalam cacah lembaganya.[rujukan?] Kecambah pinus misalnya dapat memiliki hingga delapan daun lembaga.[rujukan?] Beberapa jenis tumbuhan berbunga tidak memiliki kotiledon, dan disebut akotiledon[3]. Daftar isi [sembunyikan] 1 Kecambah sebagai sumber pangan 2 Produksi kecambah 3 Khasiat kecambah 4 Kecambah sebagai makanan sapihan 5 Beberapa jenis kecambah 5.1 Kecambah kacang hijau (Taoge) 5.2 Kecambah kacang kedelai (Soybean sprout) 5.3 Kecambah alfalfa 6 Referensi 7 Pranala Luar Kecambah sebagai sumber pangan[sunting] Kecambah sering digunakan sebagai bahan pangan dan digolongkan sebagai sayur-sayuran. Khazanah boga Asia mengenal tauge sebagai bagian dari menu yang cukup umum. Kecambah dikatakan makanan sehat karena kaya akan vitamin E namun dikritik pula karena beberapa kecambah membentuk zat antigizi[3]. Kecambah jelai yang dikenal sebagai malt digunakan sebagai salah satu bahan baku bir. Malt juga digunakan sebagai bagian dari minuman sehat karena mengandung maltosa yang lebih rendah kalori daripada sukrosa. Berikut adalah beberapa tumbuhan yang kecambahnya biasa dimakan orang : just for widening coloum Amaranthus Arugula Alfalfa Kacang azuki Brokoli Buckwheat Klover just for widening coloum Garden cress Dill Fenugreek Garbanzo Serai Lentil Selada just for widening coloum Milk thistle Mizuna Kacang hijau Mustar Kapri Quinoa Radis just for widening coloum Kedelai Bunga matahari Tatsoi Wheat grass Kamut Uwi [3]. Produksi kecambah[sunting] Dalam pembuatan kecambah dibutuhkan biji-bijian atau kacang-kacangan yang sehat, tidak busuk, dan bersih dari pestisida serta lingkungan yang optimal berupa ruang gelap, lembap, dan kadar air yang cukup untuk perkecambahan biji tersebut[4]. Pertama-tama disiapkan wadah berlubang dengan dasar yang datar. Kemudian di bagian dasarnya dilapisi dengan kapas atau kain basah, kemudian dilketakkan alas berupa kain yang merupakan tempat menyebar benih atau biji. Pada tahap awal produksi, dilakukan pencucian dan perendaman benih selama 6-8 jam dengan air kemudian benih yang telah disiapkan akan disebar di alas kain yang telah disiapkan sebelumnya. Setiap 2-3 kali dalam sehari dilakukan penyiraman dengan air bersih. Setelah 3-5 hari, kecambah sudah dapat dipanen. Proses pembuatan kecambah ini dapat dilakukan sepanjang tahun, tidak memerlukan sinar matahari, dan dapat dilakukan pada musim apapun[4]. Khasiat kecambah[sunting] Kecambah merupakan pangan yang rendah kadar lemak, kaya vitamin C, serta memiliki folat dan protein yang dapat memperkecil risiko timbulnya penyakit kardiovaskular dan merendahkkan LDL dalam darah[4]. Dalam kecambah, terkandung fitoestrogen yang dapat berfungsi seperti estrogen bagi wanita[5]. Estrogen tersebut dapat meningkatkan kepadatan dan susunan tulang, serta mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis) khususnya bagi wanita yang berada pada masa menopause. Konsumsi kecambah juga dapat membantu wanita terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang mensturasi, keluhan semburat panas pada pra-menopause, dan gangguan akibat menopause. Tidak hanya itu, kecambah juga memiliki kemampuan mengurangi risiko terkena artritis, memperlancar pencernaan, reproduksi, dan saluran kelenjar (glandular). Pada beberapa jenis kecambah, terkandung senyawa fitokimia dalam jumlah besar dan salah satunya adalah kanavanin. Senyawa ini banyak ditemukan pada kecambah alfalfa dan bermanfaat untuk mencegah kanker darah, kanker usus besar, dan kanker pankreas[6]. Selain kanavanin, senyawa anti-kanker lain yang terkandung di dalam kecambah adalah daidzein dan ''genistein''[7]. Senyawa genistein secara efektif menghambat pasokan gizi (makanan)untuk sel-sel kanker sehingga membunuh sel kanker dalam tubuh. Selain itu, di dalam kecambah juga terkandung saponin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan menstimulasi interferon dan sel limfosit T[4]. Kecambah sebagai makanan sapihan[sunting] Makanan sapihan adalah makanan yang secara khusus diformulasikan untuk bayi berusia 3-9 bulan yang mengalami masa peralihan dari mengonsumsi susu menjadi mengonsumsi makanan padat[4]. Pada masyarakat tradisional Indonsia, makanan sapihan yang diberikan berupa campuran nasi dan berbagai sayuran seperti bayam dan wortel ataupun ada pula yang hanya menggunakan pisang[4]. Kelemahan dari makanan sapihan tradisional ini adalah kandungan pati yang banyak terdapat di dalamnya menyebabkan pangan tersebut menjadi bulky atau limbak karena sifat pati yang mudah menyerap air dan mengental saat dipanaskan sehingga menyebabkan bayi yang mengonsumsinya sudah merasa kenyang sebelum lambungnya terisi cukup makanan[4]. Selain itu, pati yang merupakan makromolekul tidak dapat dipecah secara sempurna oleh enzim pencernaan bayi yang masih sangat terbatas[4]. Salah satu cara untuk menghasilkan makanan sapihan yang mudah, sehat, dan relatif murah adalah menggunakan tepung kecambah (tauge)[4]. Di dalam kecambah, terdapat kandungan enzim amilase yang tinggi[8]. Dengan melakukan pengeringan selama 7-8 jam, enzim amilase pada kecambah akan memecah pati yang dikandungnya menjadi molekul sederhana sehingga tepung kecambah yang dihasilkan tidak mengental bila dipanaskan dan tidak bulky[8]. Tepung kecambah didapatkan dari kecambah kering yang dikuliti, disangrai, digiling, dan disaring[4]. Makanan sapihan untuk bayi sebaiknya dibuat dari campuran tepung kecambah dari dua jenis bahan, seperti tauge kacang hijau dan sorgum sehingga diperoleh campuran dengan kadar protein 10-15% dan energi yang terkandung di dalamnya 370 kkal/100 gram dengan nilai PER (protein efficiency ratio) sekitar 2,35[4]. Umumnya bayi memerlukan 16-18 gram protein per hari dan itu bisa didapatkan dengan konsumsi makanan sapihan sebanyak 80-100 gram per hari[4]. Bila dibandingkan dengan makanan sapihan tradisional, hanya diperlukan 1/3 volume makanan sapihan dari tepung kecambah untuk memenuhi kebutuhan bayi[4]. Beberapa jenis kecambah[sunting] Kecambah kacang hijau (Taoge)[sunting] Taoge dari biji kacang hijau Taoge adalah sayuran yang merupakan tumbuhan muda yang baru saja berkecambah dan dilindungi dari cahaya. Kata taoge sendiri adalah serapan dari dialek Hokkian, istilah Mandarin-nya adalah douya (豆芽) yang secara harfiah berarti kecambah kacang-kacangan, umumnya berasal dari kacang hijau dan sering disajikan dalam menu makanan dari Asia Timur. Taoge segar sangat kaya akan vitamin E, dan merupakan menu yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. Dengan mengonsumsi taoge, tubuh akan terobati dan tercegah dari kekurangan vitamin E[3]. Kecambah kacang kedelai (Soybean sprout)[sunting] Kecambah kacang kedelai memiliki karakteristik berupa ukuran yang lebih besar dari taoge, memiliki akar yang lebih panjang dan bentuk lebih ramping, serta berwarna kehijau-hijauan[4]. Rasa dari kecambah jenis ini adalah renyah dan terasa agak pahit apabila disantap mentah-mentah. Kecambah dari kedelai memiliki kandungan aroma langu (beany flavor) yang relatif lebih tinggi dibandingkan taoge, namun memiliki kalori dan protein yang lebih tinggi dibandingkan kecambah lainnya. Bagi seorang vegetarian, kecambah kedelai merupakan salah satu alternatif makanan arena memiliki energi sebesar 86 kkal per cangkir yang dikonsumsi[4]. Kecambah alfalfa[sunting] Kecambah ini memiliki bentuk yang menyerupai tunas halus berdaun hijau dengan rasa yang renyah dan segar. Keunggulan dari kecambah alfafa adalah kandungan saponin yang terdapat di dalamnya sangat tinggi[9]. Saponin tersebut merupakan suatu senyawa yang dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) tanpa mengganggu kolesterol baik (HDL) sehingga mencegah terjadinya stroke dan serangan jantung[9].

Pertumbuhan Tanaman

Tropisme adalah pergerakan dalam pertumbuhan sel (umumnya pada sel tumbuhan) yang menyebabkan pergerakan organ tumbuhan utuh menuju atau menjauhi sumber rangsangan (stimulus).[1] Apabila pergerakan pertumbuhan menuju ke arah sumber rangsangan maka disebut tropisme positif, sedangkan pergerakan pertumbuhan yang menjauhi sumber rangsangan disebut tropisme negatif.[1] Secara etimologis, tropisme berasal dari bahasa Yunani "tropos" yang memiliki makna "berputar".[1] Saat ini telah ditemukan beberapa macam tropisme berdasarkan sumber stimulus atau rangsangannya.[1] Daftar isi [sembunyikan] 1 Jenis-jenis tropisme 1.1 Fototropisme 1.2 Tigmotropisme 1.3 Gravitropisme (Geotropisme) 1.4 Termotropisme 1.5 Skototropisme 2 Referensi Jenis-jenis tropisme[sunting] Fototropisme[sunting] Fototropisme adalah pergerakan pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh rangsangan cahaya.[1] Contoh dari fototropisme adalah pertumbuhan koleoptil rumput menuju arah datangnya cahaya.[1] Koleoptil merupakan daun pertama yang tumbuh dari tanaman monokotil yang berfungsi sebagai pelindung lembaga yang baru tumbuh.[1] Beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hal ini dapat disebabkan oleh kecepatan pemanjangan sel-sel pada sisi batang yang lebih gelap adalah lebih cepat dibandingkan dengan sel-sel pada sisi yang lebih terang karena adanya penyebaran auksin yang tidak merata dari ujung tunas.[1] Hipotesis lainnya menyatakan bahwa ujung tunas merupakan fotoreseptor yang memicu respons pertumbuhan.[2] Fotoreseptor adalah molekul pigmen yang disebut kriptokrom dan sangat sensitif terhadap cahaya biru.[2] Namun, para ahli menyakini bahwa fototropisme tidak hanya dipengaruhi oleh fotoreseptor, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai macam hormon dan jalur signaling.[2] Arah pertumbuhan kecambah menuju cahaya menunjukkan fototropisme. Tigmotropisme[sunting] salah satu contoh tigmotropisme pada Brunnichia ovata Tigmotropisme adalah pergerakan pertumbuhan sel tanaman yang dirangsang oleh sentuhan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani "thigma" yang berarti "sentuhan".[3] Contoh dari tigmotropisme adalah pertumbuhan tanaman sulur seperti anggur dan tanaman yang pertumbuhannya merambat dan memiliki sulur yang membelit bagian penopangnya.[3] Sulur tanaman akan tumbuh lurus hingga menyentuh sesuatu.[3] Adanya kontak sulur tersebut merangsang sulur untuk tumbuh melilit, karena terjadi perbedaan kecepatan pertumbuhan. Hal ini dikarenakan sel-sel yang terkena sentuhan akan memproduksi auksin sehingga pertumbuhannya menjadi lebih cepat hingga membengkok dan melilit sumber sentuhan[3]. Contoh lainnya adalah sentuhan angin kencang pada tebing bukit membuat pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya memiliki batang yang lebih pendek dan gemuk apabila dibandingakan dengan pohon yang sama pada daerah yang terlindungi dari angin kencang.[3] Respon perkembangan tumbuhan terhadap gangguan mekanis ini biasa disebut tigmomorfogenesis dan umumnya disebabkan peningkatan produksi etilen.[3] Gas etilen ini merupakan hormon yang dibentuk sebagai respon terhadap rangsangan sentuhan yang hebat.[3] Gravitropisme (Geotropisme)[sunting] Germinasi biji Hippuris vulgaris menunjukkan gejala gravitropisme. Gravitropisme adalah pertumbuhan sel-sel tanaman karena dipengaruhi oleh gravitasi.[4] Bila suatu benih diletakkan dalam keadaan sembarang, maka tunas akan tumbuh membengkok ke atas dan akar akan tumbuh ke bawah.[4] Pertumbuhan akar merupakan gravitropisme positif, sedangkan pertumbuhan tunas adalah gravitropisme negatif.[4] Gravitropisme ini mulai terjadi setelah proses perkecambahan biji[4]. Tumbuhan dapat membedakan arah atas dan bawah dengan pengendapan statolit.[4] Statolit adalah plastida khusus yang mengandung butiran pati padat dan terletak pada posisi rendah, misalnya pada bagian tudung akar.[4] Adanya penumpukan statolit pada akar dapat memicu distribusi kalsium dan auksin.[4] Namun, tanaman yang tidak memiliki statolit pun masih dapat mengalami gravitropisme yang disebabkan kinerja sel akar yang dapat berfungsi sebagai indera dan menginduksi perenggangan protein sel ke atas dan penekanan protein sel tanaman ke sisi bawah akar.[4] Termotropisme[sunting] Termotropisme adalah pergerakan pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh rangsangan berupa panas atau perubahan panas.[5] Salah satu contoh termotropisme adalah pertumbuhan daun tanaman Rhododendron yang dapat menjadi keriting dan menunduk ke bawah apabila suhu lingkungan mencapai -1 °C.[5] Hal ini diduga merupakan salah satu cara menghindari kekeringan daun di musim dingin dan mencegah pembukaan stomata.[5] Pada pagi hari di musim dingin, daun Rhododendron akan merunduk ke arah bawah karena adanya kenaikan suhu yang disebabkan sinar matahari pagi[6]. Hal ini berakibat pada membran selular yang membeku akan mencair. Peristiwa ini terjadi berulang setiap hari pada musim dingin.[6] Untuk menghindari kerusakan membran selular karena peristiwa pencairan-beku berulang, daun tanaman ini akan menghadap ke bawah dan berbentuk keriting.[6]. Sebagian dari ujung batang tanaman akan tumbuh dan bergerak ke arah sumber panas apabila suhunya rendah, namun bila suhunya tinggi, ujung batang akan menjauhi sumber panas tersebut. Sementara itu, pertumbuhan akar terhadap rangsangan panas belum ditemukan dengan jelas karena setiap tanaman memiliki karakteristik pergerakan pertumbuhan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain.[7] Skototropisme[sunting] Skototropisme (bahasa Yunani, skotos, erarti kegelapan, kekelaman) adalah pergerakan pertumbuhan ke arah kegelapan.[8] Hal ini merupakan kebalikan dari fototropisme sehingga disebut sebagai fototropisme negatif. Contohnya adalah beberapa tumbuhan tropis merambat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...