Showing posts with label sd alam jingga. Show all posts
Showing posts with label sd alam jingga. Show all posts

Tuesday, December 24, 2013

Membangun Peradaban melalui Sekolah Alam

Membangun sekolah peradaban adalah sebuah misi yang diemban lembaga pendidikan berlabel Sekolah Alam. Penggasannya memakan waktu tak sedikit, menyita perhatian yang tak sekejap, dan beberapa daya dukung material maupun imaterial yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Selintas beberapa orang yang mengunjungi Sekolah Alam akan bertanya-tanya bagaimana bisa tercapai target akademik dengan metode pembelajaran yang semacam ini? Anak bermain lebih banyak daripada belajar dan kelas penuh dengan hiasan semacam taman kanak-kanak saja. Biaya yang besar karena tak diterimanya kucuran dana dari pemerintah. Target kerja yang melampaui kehidupan duniawi (target yang dicanangkan harus dikembalikan pada misi penciptaan manusia).

Banyak  teori yang digunakan untuk menyokong bertumbuhnya Sekolah Alam. Perjuangan untuk eksistensinya pun sangat sukar dilakukan karena terkesan bertolak belakang dengan sistem pendidikan yang telah lama berjalan dan dilegalisasi. Intinya, anak belajar di alam dan menggunakan alam sebagai sarana pembelajaran. Mengenal ilmu dari alam, membaca tanda kuasa Ilahi melalui alam.

Saya tertegun membaca sebuah posting dari Ustad Adriano Rusfi di Grup  Millenial Learning Center
Pendidikan yang mampu mempersiapkan siswanya untuk memasuki realita bukanlah pendidikan paling mirip dengan realita itu sendiri, tapi pendidikan yang menghasilkan siswa yang percaya diri, berdaya adaptasi tinggi, dan cepat mempelajari hal baru. Karena realitas itu sendiri banyak, beragam, dan berubah.

Dan hanya satu guru dan medium yang mampu melakukan dan mewujudkannya : Alam ! Untuk itu, sekolah alam dan sekolah komunitas harus memposisikan dirinya sebagai ranah perjuangan, bukan sekolah yang melulu menawarkan pembelajaran yang enjoy, happy, fun dan playful

Sungguh, seharusnya ini memang bukan sekolah bersenang-senang, karena ia lebih mirip sebuah kawah Candradimuka.

(Oleh-oleh dari sebuah sekolah alam)

Kalimat yang padat berisi ini menegakan kepala para penyelenggara Sekolah Alam. Ada misi yang lebih besar dari sekadar menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, membahagiakan, beragam, dan fokus pada perkembangan kepribadian juga keunikan anak. Kata kunci untuk pengembangan Sekolah Alam adalah: Kawah Candradimuka. Sebuah istilah yang Dahsyat Luar Biasa. Sesungguhnya sebelum pembelajaran itu “terlihat” menyenangkan maka para gurunya harus memahami dan menginternalisasi nilai di balik kegiatan belajar yang playful. Tugas yang menyenangkan bagi mereka yang memahami dengan hati makna seorang pendidik.

Ya, dirinya (sang pendidik/sang guru/sang fasilitator) harus menempa diri sebaik mungkin untuk menjadi sosok yang layak untuk di-gugu dan di-tiru. Ada transfer nilai yang harus sudah mapan menetap dalam diri sebelum menyulap kegiatan belajar ini menyenangkan. Harus mengimbasi murid dengan pembelajaran yang sarat nilai ke-Tuhan-an (Rabbaniyah). Harus menumbuhkan bibit kesyukuran yang kelak akan menetap pada diri anak didik. Harus mampu menumbuhkan karakter”khalifah” dalam diri mereka (menguasai ilmu dan alat juga memahami makna; unggul dan terpercaya)  Ya, itu semua sebuah keharusan.

Mendapatkan semua karakter itu membutuhkan waktu dan proses yang tak sebentar. Semua pihak harus rela memproses dirinya dalam rangka pemenuhan target kriteria tersebut. Suka atau tidak suka proses itu harus dipercepat dan semua pihak harus saling mendukung. Iklim kerja harus kondusif, profesional, tawazun, dan saling mencintai karena Allah. Inilah langkah untuk menciptakan sebuah komunitas yang tak henti belajar untuk mentransfer nilai pada komunitas yang lebih besar (masyarakat sekitar) dan pada anak didik titipan Allah. Kelak, akan tiba saatnya peradaban itu akan terbentuk dan jejak Sekolah Alam akan ditemukan di dalamnya.

Walau kaki sudah letih berlari
Ada kalanya hanya mampu berjalan
Atau menggeser tempat seinchi demi seinchi
Kita tak boleh lagi berhenti
Bergerak...
Bergeraklah. Allah bersama kita.
>> Jinggaku, merekahlah sepanjang musim.

Wednesday, September 4, 2013

Kurikulum 2013 dan Penilaian Hasil Belajar

Sebelumnya minta maaf jika kawan yang datang berkunjung ke sini berharap mendapat info tentang definisi Penilaian Hasil Belajar maupun Kurikulum 2013. Saya tak hendak membahasnya secara teoritis. Maaf ya, soalnya ini blog pribadi #justifikasi malas menulis dengan gaya formal.

Teman, jika ditanya apa ruh sebuah sekolah? Sebagian besar sepertinya akan menjawab kurikulum. pertanyaan lain adalah, apa yang menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan di lembaga pendidikan, jawabannya mungkin Hasil Belajar. Pertanyaan ketiga, apakah alat yang digunakan dalam Penilaian Hasil Belajar valid, teruji, terukur? Ya...standar yang muncul membuat saya sempat gamang. Apakah saya bersama tim kecil di Sekolah Alam Jingga telah memberikan yang terbaik bagi para siswa? Mungkin kegamangan itu muncul karena bermacam standar yang kami pahami sebagai bentuk ideal pendidikan. Ya, pemahaman 'orde lama', bahwa anak yang berhasil adalah mereka yang mudah mencerap pelajaran, memiliki skor tinggi dalam ujian, memiliki cita-cita tinggi dan ambisius mendapatkannya, tekun membaca buku, senang berkompetisi, dan menguasai beberapa bahasa asing.

Ngeri. Apalagi pemahaman kami yang tak seberapa tentang penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas itu kini dihadapkan pada perubahan Kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013. Isu sana sini sempat membuat panik.

Seiring usaha kami untuk tetap "tabah" *hadeuhhh... jalan yang kami pijak mulai memperlihatkan wujudnya. So, yang kami lakukan saat ini adalah;
1. Melengkapi standar yang perlu dimiliki oleh lembaga pendidikan secara administratif. Ini penting untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, seperti jaringan tema, silabus, rpp, bahkan prota dan promes serta kalender pendidikan.
2. Tetap memeilihara tujuan awal mendirikan Sekolah Alam, yaitu menjadikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses belajar karena ianya akan mengembalikan fitrah tujuan penciptaan manusia, yaitu sebagai Khalifah fil Ardh.
3. Tetap konsisten pada ukuran keberhasilan belajar, yaitu perbaikan kualitas secara individual. Tak ada pembandingan dengan anak lain, tak ada pengistimewaan. Semua anak spesial, semuanya hebat dan pintar.
4. Selalu menyiapkan diri untuk mampu beradaptasi dan meningkatan kualitas diri sebagai pengajar.
5. Membuka ruang sebesar-besarnya untuk mengapresiasi keberhasilan dan merevisi kesalahan sebagai manusia yang terus berproses.
6. Struggle bersama tim. Semua yang diawali dengan kebaikan, dikerjakan dari hati bersama orang-orang baik yang kita cintai pasti akan menjadi mahakarya.

Berikut ini surat saya untuk para orang tua di Jingga dan di mana pun berada:
Ayah, Bunda... sesungguhnyalah prestasi itu adalah masa ketika Ananda memahami hakikat hidup dengan benaknya yang sederhana
menjalankan solat dengan kesadaran
mau dan mampu mengantri
tak sungkan meminta maaf ketika bersalah
berinisiatif melakukan perbuatan positif
menggunakan tutur bahasa yang baik juga sopan
memilih melakukan perbuatan jujur ketika peluang berkelit itu terbuka lebar
dan terpenting... berangkat sekolah dengan bahagia
dengan begitu, mereka tak segan berkutat dengan matematika, bahasa, ips, ipa, dan pelajaran yang diujiankan karena mereka paham:
Belajar sejatinya memperoleh pengetahuan yang dengannya mengubah keadaan dari tau menjadi tak tau, dari bisa jadi biasa, dan dari biasa menjadi perubah.

Dzaki and Ghifar our Special Kids
Berbaikan, ya...
Ayash Menangkap Kadal.
Selain kadal seperti ini, anak-anak mulai akrab dengan Yuyu, Soang, dan beberapa hewan lainnya.
Asyik berdiskusi dengan topik 'khas kanak-kanak'.
Kakak SD 5 (Najwa dan Ayash) belajar ditemani guru baru, Pak Khusaini.

Belum sarapan? Buka bekalmu. Nikmati bersama kawan-kawan. Sudah sarapan? Yuk, main puzle dulu.
Maka, ketika ditanyakan kurikulum apa yang digunakan tentu saja Jingga pakai kurikulum yang "sedang direstui" saat iniyaitu 2013. Ukuran keberhasilan belajar kami adalah adanya perbaikan kualitas pribadi pada diri anak dan fasilitator. Ya, kami belajar bersama ^_^

Thursday, July 4, 2013

Belajar Menjadi Petani (atau Tukang Kebun ya?)

Pagi-pagi saya nulis status dan share di grup:

Salam pagi... memberanikan diri untuk bersuar di sini. Hehehe...newbie memang pemalu. Saya ikut beberapa grup tentang hidroponik danmenjadi sangat terinspirasi. Terlebih saat ini sedang mengelola Sekolah Alam di Bekasi Utara. Jujur baru kali itu saya pegang biji-biji sayuran dan menanamnya (di tanah). Rasanya ada sesuatu yang "tumbuh" juga di hati sayabegitu lihat biji2 itu bertunas, makin hijau, dan siap panen. Mudah2an siswa kami nanti juga excited seperti saya  
Mohon bimbingan para master di sini karena dalam pembelajaran nanti saya akan banyak bereksperimen bersama siswa di Sekolah Alam Jingga. *maaf kepanjangan. hehhehe*


Asli deh pede banget saya. hehehe... tapi alhamdulillah dapat tanggapan yang bagusdari para mimin. Beneran nda ya mereka mau ke jingga? hehehe... ini dia grupnya. Klik di sini ya.

Ohya, buat yang penasaran dengan poto-poto sayuran di Sekolah Alam Jingga:

Jadi ingat sayur bening campur tahu ya kalau lihat sawi segar-segar begini.
Kangkungnya sehat banget, padahal ngga pernah ke Posyandu alias organik nih.
Perkiraan, timun suri ini baru bisa dipanen 2 bulan lagi.
Wah, tidak bisa  dikonsumsi Ramadhan dong :(
Ini saya dan Bu Ria yang cangkul. Keren, kan?
Heheheh... pasang policeline dulu biar ngga ada yang ganggu

Monday, July 1, 2013

Jingga's Camp 29-30 Juni 2013

Jingga's Camp merupakan proyek gabungan, sebagai acara perdana Jingga Learning Center sekaligus bagian dari rekruitment siswa baru Sekolah Alam Jingga. Sebagai acara puncak dari Student Camp, keceriaan yang ditunggu-tunggu akhirnya benar-benar dapat dinikmati.

Tujuan Jingga's Camp ini sederhana sebenarnya. Menciptakan sebuah moment berharga bagi Ananda untuk merasakan kehidupan mandiri dan serba berbeda dengan kesehariannya namun tetap ceria.

Sesi pertama Jingga's Camp ini adalah outbound low impact, menyebrangi jembatan bambu di atas kolam kecil, tiarap di bawah jaring laba-laba (walau banyak yang merangkak, bukan tiarap. hehe...), kemudian dilanjutkan dengan membawa kelereng dengan sendok yang digigt.
Menyebrangi jembatan bambu.
Lho kok merangkak?  :D 
Membawa kelereng dengan menggigit sendok.
Senangnya habis main outbound.
Semua tampak senang walau pakaian menjadi kotor. Usia peserta yang sebagian besar adalah siswa Sekolah Alam Jingga ini antara enam hingga dua belas tahun. Beberapa di antaranya belum pernah bermalam  di luar rumah tanpa orang tua. Namun, dengan acara yang padat dan menyenangkan...kesedihan yang sempat mereka rasakan menjadi sirna berganti keakraban dan kasih sayang.
Malam hari juga menjadi bagian yang tak kalah seru. Mereka khusyuk shalat berjamaah dan setelah itu asik menikmati makan malam yang unik. Nasi yang dibakar di api unggun menggunakan bambu mereka santap di alam terbuka.

Setelah makan, para peserta menonton film edukatif bersama-sama. Layar yang dipasang di depan saung, karpet yang digelar di atas rumput, dan rasa penasaran yang muncul... memicu munculnya sensasi tersendiri. Tak lama, hanya satu jam setelah itu peserta Jingga's Camp dipersilahkan masuk ke tenda untuk tidur. Beberapa masih gelisah dengan kondisi yang serba tak nyaman, namun beberapa tampak sudah asik dan terlelap "terbang ke alam mimpi".
Persiapan shalat berjamaah.
Dibalik-balik agar lekas matang.
Menanti makan malam. Bakar nasi di api unggun.
Nonton film edukatif bersama.
Suasana di dalam tenda.
Pagi-pagi aktifitas dimulai pukul 03.30. Beberapa di antara peserta sudah bangun dan shalat qiyamul lail dan dilanjutkan dengan shalat subuh. Tak lama setelah merapikan perlengkapan shalat, peserta berkumpul di lapangan untuk peregangan dan tracking ke beberapa titik. Inti perjalanan kali ini adalah menanamkan kepedulian anak terhadap lingkungan. Mereka memungut sampah di jalan yang mereka lalui. mengumpulkannya dalam trash bag dan kembali ke camp dengan semangat menjaga kebersihan.
Penasaran dengan hasil bakaran tadi malam.
Mengucapkan yelyel sebelum tracking pagi.
Pos kedua, mendapat tugas untuk membersihkan lingkungan.
Para penyelamat lingkungan istirahat dulu.
Pasukan cantik yang peduli lingkungan.
Menemukan sampah di jalan, dipungut, dan dikumpulkan di kantong pelastik.
Kelompok yang sudah lebih dulu kembali melakukan "operasi semut" di area campin, lalu mandi dan kembali bermain di arena outbound.  

Akrab menikmati makan pagi bersama.
Mencuci piring sendiri setelah makan.
Setelah pakaian mereka kembali bersih, para peserta menikmati makanan kecil dan dilanjutkan dengan sarapan. Bagian yang tak kalah seru adalah ketika kakak-kakak mendapat tugas membagikan makanan pada adik-adiknya yang berbaris dengan rapi membawa perlengkapan makan sendiri.
Kakak membantu menuangkan makanan ke piring adik-adik di  Jingga's Camp
Membersihkan ruangan bersama. Tetap ceria.
Makan pagi kali itu sangat sederhana, namun sarat dengan vitamin dan gizi yang tinggi. Sayur bayam, tempe goreng, dan buahnya semangka. Semua anak lahap dan menghabiskan makanannya. Setelah makan, mereka pun mencuci sendiri perlengkapan makan yang mereka pakai. Sekali lagi, mereka mengantri dengan sabar. Lihatlah anak-anak kecil ini menjadi pribadi yang mandiri.
Kami semua kembali berkumpul dan menyimpulkan beberapa hikmah yang kami dapatkan. Sebelum penutupan, semua anak membersihkan kembali area camp agar kembali rapi seperti semua.

Jadi...semua sudah bersenang-senang. Penyematan badge dan pemberian farewell snack mengakhiri pertemuan yang manis di Jingga's Camp. Insyaallah ramadhan ini JLC akan kembali mengadakan acara yang serupa dengan pengorganisasian yang lebih baik lagi?

Tertarik? Hubungi Sekolah Alam Jingga atau Jingga Learning Center ya.

Wah, disematkan badge. Peserta senang semua.
Berpoto bersama setelah penutupan.
Bekas api unggun.  Jejak pertama camping.
Tenda setelah ditinggalkan peserta. :)

Monday, June 24, 2013

Jingga di Waktu Malam

Suasana yang sangat berbeda di Jingga kala malam.
Tampak sejuk dan menyenangkan.
Kakak Jingga bersama Pengurus Jingga Foundation. Akrab ^_^
Subhanallah... indahnya...
Kakak Jingga sebelum persiapan untuk performance.
Baru latihan saja sudah menarik perhatian.
Pagi hari sebelum kembali ke rumah masing-masing... kita photo dulu ya ^_^

Saturday, June 22, 2013

Part #3: Permainan Tradisional

Pagi-pagi ujicoba "Sendal Batok".
Test drive kedua, di kebun Jingga.
Main karet mengasah motorik kasar juga, lho....
Mas Rafif masih penasaran dengan "Sendal Batok"
Kakak Rahma enjoy main karet bersama ibu guru.
Ular Naga Pnjangnya... wowww...seruuu

Wednesday, June 19, 2013

NoBar: World WarZ

World War Z dengan bintang utama Brad Pitt sangat memukau. film ini luar biasa bikin tegang. sejak awal hingga akhir terpukau oleh adegan-adegan yang tidak dapat dprediksi.jeritan kaget dan jantung yang berdegup cepat menjadi sensasi tersendiri. acara NoBar dengan guru Sekolah Alam Jingga ini adalah yang pertama.  film tentang pandemic zombie dan lika-liku perjuangan menghadapainya. hitung-hitung refreshing setelah berkutat dengan pembuatan silabus dkk. hm...ringkasnya, saya mendapatkan beberapa hal berharga sebagai insight.

Best Movie Ever :D
1. fokus dilakukan ketka kita sudah paham mana center point yang akan membantu kita pada tujuan
2. beri ksesempatan semua orang untuk membuktikan hipotesanya. apa pun itu, sekali pun hipotesa tersebut bertentangan dengan mayoritas. berikan fasilitas dan harapan yang sama.
3. fokus yang dibangun tidak melulu terhadap apa yang terlihat menonjol. pindai semua kemungkinan. beberapa masalah membuat kamuflase dengan memakai kelemahan sebagai kekuatan. padahal di sanalah titik untuk melumpuhkan lawan.
4. kekuatan kita akan lumpuh karena kesedihan. memperluas harapan dan kebermaknaan arti perjuangan akan memperkuat asa dalam berjuang.
5. semua orang takut akan hari akhir tapi tak ada satu pun yang mengingkarinya. setiap kita harus mengusahakan agar kehidupan ini menjadi lebih baik. menjadi lebih berkualitas.
6. kebahagiaan itu sederhana. bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, memberikan yang terbaik bagi mereka, dan menjaga komitmen untuk tetap bersama adalah contohnya. *soal yang satu ini saya menulis lagi. klik di sini ya*

karena hakikatnya perjuangan ada dalam setiap asa hidup. melangkah dan mencapai target kehidupan adalah bagian dari perjuangan. hal yang sederhana bisa jadi langkah yang baik dalam pencapaian cita-cita. bagi saya, nobar kali ini seru. banget, nget nget...

NoBar selanjutnya bawa siswa Sekolah Alam Jingga, insyaallah. beberapa misi akan mereka lakukan.intinya mereka akan bawa papan lapangan, membuat rute perjalanan, membuat denah gedung, menonton,meriview, melaporkan, dan belanja buku bersama. seru??? insyaallah. doakan rencana kami sukses ya....

btw, yang ngn nonton trailernya...silakan klik di sini

Monday, June 17, 2013

Inquiry Based Learning: Strategi Mengajar di Jingga

Sekolah Alam Jingga menerapkan metode yang menyenangkan dalam prosesbermain sambil belajar. Berikut ini tulisan tentang IBL yang bersumber dari http://www.bincangedukasi.com/inquiry-based-learning.html
Satu lagi nih metode belajar mengajar alternatif yang menarik untuk diterapkan. Nama kerennya: Inquiry Based Learning. Dalam IBL, proses pembelajaran dibangun atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Di sini para siswa didorong untuk berkolaborasi untuk memecahkan masalah, dan bukannya sekedar menerima instruksi langsung dari gurunya. Tugas guru dalam linkungan belajar berbasis pertanyaan ini bukanlah untuk menyediakan pengetahuan, namun membantu siswa menjalani proses menemukan sendiri pengetahuan yang mereka cari. Jadi, guru berfungsi sebagai fasilitator dan bukan sumber jawaban. Nah, kalau baca definisi ini, pasti deh banyak pembela pendidikan formal yang bilang, “Lha, kalau itu sih kita sudah tahu, memang itu seharusnya tugas guru!” Pertanyaannya, sudah dijalankan belum, hayo? Coba baca lebih jauh dulu.

Sunday, June 16, 2013

Menanam dengan Hati: It Works!

Sebenarnya saya tidak begitu suka bertanam. kata orang, tangan saya panas. apa yang saya tanambiasanya tidak akan tumbuh subur atau malah mati. itulah mengapa orang bilang, manusia seperti saya ber"tangan panas".
sebagian lainnya bilang, "ah...itu kan tahayul". 

akhirnya saya percaya pernyataan kedua karena begitu bergaul dengan keseharian Sekolah Alam Jingga, rasa sayang saya terhadap tanaman tumbuh dengan sendirinya. saya suka memendam biji-biji di polybag yang sudah diisi tanah.

saya suka menunggu biji-biji itu bertumbuh menjadi kecambah. saya akan penasaran  melihat kecambah itu bertambah daunnya dan mendeskripsikan jati dirinya. wowww...semua kecambah berbentuk nyaris sama. seperti halnya semua janin.

saya akan begitu excited ketika daunnya bertambah, tingginya bertambah, mengeluarkan bunga, bunganya berubah menjadi buah. buahnya lama kelamaan menjadi besar dan siap untuk dipanen. 
kalau yang satu ini baby kangkung. pertmubuhannya lebih cepat tinimbang tanaman yang sama yang ditanam beberapa pekan sebelumnya. kenapa? menurut saya, hal ini terjadi karena yang menanamnya adalah anak-anak. mereka melakukannya dengan hati riang. kebahagiaan itu yang tertangkap oleh sang baby. ia pun tumbuh optimal ;) memang, apa pun yang dilakukan dengan hati akan memberikan manfaat yang luar biasa besar.

Kangkung-kangkung di polybag usia 5 hari
Baby kangkung ditanam dengan kegembiraan.
Baby kangkung menjadi semakin subur setelah dipindahkan ke tanah.  Masyaallah...
pagi, siang, sore, dan malam di jingga adalah tapak menuju sebuah impian. mimpi itu terus membesar. akarnya kuat pada realita dan dahannya yakin menjulang mengharap ridha-Nya. rasanya...sejumlah kekhawatiran tentang "apa-apa yang belum terjadi" terkikis sedikit demi sedikit.Allah tak pernah ingkar janji. segala yang ada di muka bumi ini memiliki rejekinya masing-masing. semua usaha untuk menjadikan teori-teori ilahiah dan robaniah menjadi nyata, pasti akan Allah berikan jalan untuk menerapkannya.

so...teman-teman di Jingga, keep movin please. selama kita mengembangkan program, mengembangkan diri, siap berjuang dengan kesegala kekurangan yang ada dalam diri kita...selama jalan yang kita tempuh itu secara sederhana adalah mengejawantahkan "apa maunya Allah", pasti diberikan kemudahan.

itu saja dulu ;) makin ke sini makin susah mendeskrpsikan perasaan. kita rupanya tak terlatih untuk mmendeskripsikan rasa syukur. "maafkan ya Allah... hamba masih belajar. di sini langkah kaki dan tangan yang bekerja hari demi hari adalah tangan dan kaki manusia yang bodoh. maklumilah kami. maafkan. kami mencintaiMu dengan cara yang terbatas namun cintaMu amat luas. terimalah rasa cinta ini dan de."kap kami dalam cinta Engkau yang meneduhkan gelisah dan membakar asa."
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...