Friday, February 28, 2014

Kualitas Guru


Alhamdulillah Sekolah Alam Jingga selalu memerhatikan peningkatan kualitas guru sebagai bentuk dari jaminan mutu kepada orang tua dan siswa juga komunitas. Saat ini pelatihan guru sudah memasuki gelombang kedua. Senang rasanya bergabung dengan orang muda yang semangat menuntut ilmu.

Tuesday, December 24, 2013

Membangun Peradaban melalui Sekolah Alam

Membangun sekolah peradaban adalah sebuah misi yang diemban lembaga pendidikan berlabel Sekolah Alam. Penggasannya memakan waktu tak sedikit, menyita perhatian yang tak sekejap, dan beberapa daya dukung material maupun imaterial yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Selintas beberapa orang yang mengunjungi Sekolah Alam akan bertanya-tanya bagaimana bisa tercapai target akademik dengan metode pembelajaran yang semacam ini? Anak bermain lebih banyak daripada belajar dan kelas penuh dengan hiasan semacam taman kanak-kanak saja. Biaya yang besar karena tak diterimanya kucuran dana dari pemerintah. Target kerja yang melampaui kehidupan duniawi (target yang dicanangkan harus dikembalikan pada misi penciptaan manusia).

Banyak  teori yang digunakan untuk menyokong bertumbuhnya Sekolah Alam. Perjuangan untuk eksistensinya pun sangat sukar dilakukan karena terkesan bertolak belakang dengan sistem pendidikan yang telah lama berjalan dan dilegalisasi. Intinya, anak belajar di alam dan menggunakan alam sebagai sarana pembelajaran. Mengenal ilmu dari alam, membaca tanda kuasa Ilahi melalui alam.

Saya tertegun membaca sebuah posting dari Ustad Adriano Rusfi di Grup  Millenial Learning Center
Pendidikan yang mampu mempersiapkan siswanya untuk memasuki realita bukanlah pendidikan paling mirip dengan realita itu sendiri, tapi pendidikan yang menghasilkan siswa yang percaya diri, berdaya adaptasi tinggi, dan cepat mempelajari hal baru. Karena realitas itu sendiri banyak, beragam, dan berubah.

Dan hanya satu guru dan medium yang mampu melakukan dan mewujudkannya : Alam ! Untuk itu, sekolah alam dan sekolah komunitas harus memposisikan dirinya sebagai ranah perjuangan, bukan sekolah yang melulu menawarkan pembelajaran yang enjoy, happy, fun dan playful

Sungguh, seharusnya ini memang bukan sekolah bersenang-senang, karena ia lebih mirip sebuah kawah Candradimuka.

(Oleh-oleh dari sebuah sekolah alam)

Kalimat yang padat berisi ini menegakan kepala para penyelenggara Sekolah Alam. Ada misi yang lebih besar dari sekadar menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, membahagiakan, beragam, dan fokus pada perkembangan kepribadian juga keunikan anak. Kata kunci untuk pengembangan Sekolah Alam adalah: Kawah Candradimuka. Sebuah istilah yang Dahsyat Luar Biasa. Sesungguhnya sebelum pembelajaran itu “terlihat” menyenangkan maka para gurunya harus memahami dan menginternalisasi nilai di balik kegiatan belajar yang playful. Tugas yang menyenangkan bagi mereka yang memahami dengan hati makna seorang pendidik.

Ya, dirinya (sang pendidik/sang guru/sang fasilitator) harus menempa diri sebaik mungkin untuk menjadi sosok yang layak untuk di-gugu dan di-tiru. Ada transfer nilai yang harus sudah mapan menetap dalam diri sebelum menyulap kegiatan belajar ini menyenangkan. Harus mengimbasi murid dengan pembelajaran yang sarat nilai ke-Tuhan-an (Rabbaniyah). Harus menumbuhkan bibit kesyukuran yang kelak akan menetap pada diri anak didik. Harus mampu menumbuhkan karakter”khalifah” dalam diri mereka (menguasai ilmu dan alat juga memahami makna; unggul dan terpercaya)  Ya, itu semua sebuah keharusan.

Mendapatkan semua karakter itu membutuhkan waktu dan proses yang tak sebentar. Semua pihak harus rela memproses dirinya dalam rangka pemenuhan target kriteria tersebut. Suka atau tidak suka proses itu harus dipercepat dan semua pihak harus saling mendukung. Iklim kerja harus kondusif, profesional, tawazun, dan saling mencintai karena Allah. Inilah langkah untuk menciptakan sebuah komunitas yang tak henti belajar untuk mentransfer nilai pada komunitas yang lebih besar (masyarakat sekitar) dan pada anak didik titipan Allah. Kelak, akan tiba saatnya peradaban itu akan terbentuk dan jejak Sekolah Alam akan ditemukan di dalamnya.

Walau kaki sudah letih berlari
Ada kalanya hanya mampu berjalan
Atau menggeser tempat seinchi demi seinchi
Kita tak boleh lagi berhenti
Bergerak...
Bergeraklah. Allah bersama kita.
>> Jinggaku, merekahlah sepanjang musim.

Wednesday, November 20, 2013

Hiduplah, Nak

Karena air yang tak lagi bersih, udara yang tercemari, makanan beracun, agama yang tak lagi murni, komersialisasi segala bidang, penyelewengan yang besar dan kecil, kejahatan terselubung, kejahatan terang-terangan, juga intrik politik penyembah setan... aku takut dunia ini tak  layak untuk kehadiranmu, Nak.

Dalam segala yang ada padamu, kaulah duniaku kini. Amankah kau menjalani hari-harimu nanti? Karena suatu saat ku tak lagi bisa melindungi. Mampukah kau menjadi orang baik dan mencapai mimpi-mimpimu? Karena suatu saat marabahaya bisa menghabisi nyawamu.

Tapi Tuhan kita sama dengan Tuhannya ia yang tak mati ditelan paus. Sama dengan ia yang tak mati dilalap api. Sama dengan ia yang tak hanyut berjalan di dasar laut. Maka ku tahu kau akan selamat karena Ia Maha Adil dan Maha Melindungi.

Juga karena telah sempurnanya tata aturan hidup melalui utusanNya yang terakhir. Tinggal lagi kau ikuti ia sebaik-baiknya. Maka ku tahu kau akan selamat karena Ia Maha Mengetahui dan Maha Melindungi.
Yang bisa kulakukan kini, kukenalkan kau dengan orang-orang baik. Aku dan mereka berkumpul menyiapkan masyarakat baru. Di sana kami belajar sepanjang waktu, mencoba menerapkan semua kebaikan, mendisiplinkan diri pada ketaatan, mengoptimalkan potensi baik, mencegah berkembangnya potensi buruk. Di sana tak jarang kami salah, tersalah. Tapi bangkit, perbaiki lagi, coba lagi, dan yakin pada tujuan adalah sumber kekuatan kami bertahan.



Yang bisa kulakukan kini, kukenalkan kau dengan komunitas yang kelak kau akan bertumbuh di sana. Kelak kau akan mengidentifikasikan diri sebagai anggota komunitas itu. Kelak kau akan mengembangkan komunitas sejenis. Kelak kau dan teman-temanmu akan menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih layak untuk ditempati.
Komunitas itu berisi orang baik yang selalu berusaha mendekatkanmu pada kebaikan. Mereka akan selalu menerimamu apa adanya, menginspirasimu, memfasilitasi pencapaian mimpi-mimpimu, bergerak dalam rotasi yang sinergis, dan bertautan hati sehingga terbangun dalam dirimu otomatisasi yang menularkan kebaikan. Pada siapa saja, di mana saja, sampai kapan pun. Indah, kan?

Komunitas itu berisi orang baik yang selalu berbahagia atas keberhasilanmu, turut larut dalam doamu, menemukanmu bahkan dalam radius yang tak pernah terdeteksi teknologi. Luar biasa, kan?

Komunitas itu berisi orang baik yang membaca tulisan ini. Mereka adalah satuan terkecil dari masyarakat perubahan. Maka, kau tenang saja Anakku. Kami orangtuamu telah memilih di komunitas mana kau akan hidup dan Tuhan tak pernah mati. Ia dan hamba-Nya yang saleh akan menjadi media berkembangmu. Kau akan bertahan dan menjadi bagian dari tapak juang mereka yang akan mengubah peradaban.

dan dikatakanNya, kaulah akhiratku
maka hiduplah di dunia ini, Nak.
PS: saudaraku, terima kasih sudah menjadi bagian dari komunitas itu.

Tuesday, October 29, 2013

Kunjungan dari RA Jingga

Hari ini di Jingga cukup ramai. Adik-adik dari RA Jingga berkunjung, mahasiswa UMJ mengobservasi, Kakak SD 5 meninjau museum, SD 2 dan SD 3 belajar tentang hewan, SD1 belajar kasti dengan peralatan sederhana

Selamat datang adik-adik RA Jingga... Wah, semangat sekali ya!
Wah...sepanjang mata memandang... tempat bermain semua ya!

Jalan di titian... Menyenangkan!
Halang rintang di bawah steger :p
Setelah bermain outbound low impact, cuci kaki dan tangan dulu ya...
Nah, tangan sudah bersih kan? Kita mulai makan snack. Ayo...berbagi ^_^

Sunday, October 27, 2013

Jingga Outbound - Low Impact Session

Low Impact Outbound
Alhamdulillah, siswa Jingga mengikuti Low Impact Outbound yang diselenggarakan secara sederhana di halaman sekolah. Instalasi Outbound tidak perlu mahal, tapi yang terpenting adalah memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mencapai hasil maksimal. Setelah menikmati video Outbound siswa di Jingga, teman-teman dapat membaca pengertian Outbound dalam artikel ringkas di bawah ini.

Outbound training adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Alam Indonesia yang kaya menyediakan sumber belajar yang tidak akan pernah habis digali. Dimensi alam sebagai obyek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya.

Outbound merupakan salah satu metode pembelajaran modern yang memanfaatkan keunggulan alam. Para peserta yang mengikuti outbound tidak hanya dihadapkan pada tantangan intelegensia, tetapi juga fisik dan mental. Dan ini akan terus terlatih menjadi sebuah pengalaman yang membekali dirinya dalam menghadapi tantangan yang lebih nyata dalam persaingan di kehidupan sosial masyarakat.

Kegiatan outbound sendiri bertujuan menumbuhkan dan menciptakan suasana saling mendorong, mendukung serta memotivasi dalam sebuah kelompok. Selain mengembangkan kemampuan apresiasi atau kreativitas dan penghargaan terhadap perbedaan dalam sebuah kelompok juga memberikan kontribusi memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian, keberanian, percaya diri, tanggung jawab dan empati yang merupakan nilai dasar yang harus dimiliki setiap orang. Yang diterjemahkan melalui experiential learning yang akan memberikan pengalaman langsung kepada peserta pelatihan dengan simulasi permainan. Peserta langsung merasakan sukses dan gagal dalam pelaksanaan tugas.

Sisi menarik dari metode pembelajaran outbound adalah permainan sebagai bentuk penyampaiannya. Dalam permainan skill, individu tidak hanya ditantang berpikir cerdas namun juga memiliki kepekaan sosial. Dalam outbound peserta akan lebih banyak dituntut mengembangkan kemampuan ESQ (emotional and spiritual quotient) nya, disamping IQ (intellegent quotient). Metode outbound training memungkinkan peserta dalam aktivitasnya melakukan sentuhan-sentuhan fisik dengan latar alam yang terbuka sehingga diharapkan melahirkan kemampuan dan watak serta visi kepemimpinan yang mengandung nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, toleransi, kepekaan yang mendalam, kecerdasan serta rasa kebersamaan dalam membangun hubungan antar manusia yang serasi dan dinamis.
sumber: http://sekolahalamjogja.wordpress.com/promo/


Belajar Jarak Jauh dengan Skype

Ada ide menarik yang coba saya kembangkan di tengah kesibukan mengembangkan beberapa model kegiatan lain. Yes, Woman Behind The Tank :p
Sebagai pengguna Skype, saya melihat peluang yang cukup baik dalam mengembangkan pendidikan jarak jauh bagi anak-anak yang menolak datang ke sekolah (School Refusal)  atau berhalangan tetap. Bukan hal baru memang, karena layanan ini sudah digunakan oleh masyarakat di Luar Negeri untuk meningkatkan pengalaman belajar mereka. Seperti halnya yang dilakukan oleh Mr. Solarz' di kelasnya. Hal ini juga sudah diterapkan secara sederhana oleh Komunitas Belajar di Qaryah Thayyibah, Salatiga.

Menggunakan Internet untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Sumber: http://hardivizon.com/2008/09/20/ramadhan-di-q-tha/
Sebenarnya tidak usah "ngeri" untuk menggunakan "layanan chating" untuk beljar. Pemegang kendalipenuh adalah guru. Juga ada misi yang kita tanamkan hingga kegiatan mengasyikan itu tetap bermkna dalam membangun pengalaman belajarnya. Lihatlah bagaimana murid di kaki gunung seperti Qaryah Thayibah bisa lebih "menginternasional" dan visioner tinimbang anak-anak di SMP reguler kisaran tengah kota dan agak ke pinggir sedikit.

Yuk, kita intip https://education.skype.com/ sebagai link yang biasa digunakan untuk model pembelajaran yang satu ini. Tertarik? Yuk, kita kembangkan bersama ;)

Pembelajaran Jarak Jauh sebagai Solusi School Refusal

Menolak mengikuti pembelajaran di sekolah rupanya menjadi sebuah gejala yang memprihatinkan. Beberapa hari lalu di sebuah meeting point, saya mendapat informasi bahwa School Refusal dilakukan oleh beberapa siswa kelas 5 dari wilayah tinggal yang sama. Kecurigaan saya muncul dengan beberapa kesamaan identitas ini. Berbagai pertanyaan hadir berkenaan tentang penyebab School Refusal ini.

Terpenting adalah, apakah sekolah kini menjadi tempat yang menimbulkan trauma sebegitu dalam pada diri anak? Apakah yang terjadi setelah ia benar-benar menolak bersekolah? Dapatkah orang tua memberikan solusi konkrit agar anak-anak ini dapat tetap memperoleh pendidikan yang dapat digunakannya dalam kehidupan?

Saya pikir, pihak sekolah dan orang tua harus sama-sama menyelesaikannya. Mungkin dengan memberikan penawaran dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh, masalah ini bisa tertangani.
Saya mencoba mengembangkan model pendidikan yang mirip-mirip Home Schooling. Tentu dengan jadwal School and Home Visit yang disepakati sebagai bentuk kwtwerlibatan anak dengan lingkungan juga timbal balik dengan pihak pendidik (jika tidak terkendala jarak).
  1. Assessment kondisi anak dengan psikolog yang kami rekomendasikan.
  2. Membincangkan hasil assessment dan ajuan program pembelajaran bagi Ananda
  3. Melakukan MoU (Memorandum of Understanding)
  4. Menjalankan program pembelajaran
  5. Evaluasi program
  6. Membincangkan Rencana Tindak Lanjut
  7. Menjalankan Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Hide and Seek is Like Treasure Hunt. Very exiting time to blow up spirit to learn.
Jadi, apa salahnya kita mencoba model belajar seperti ini. Alhamdulillah saya berhasil menyembuhkan School Phobia yang terjadi pada dua buah hati. Mudah saja, buat sekolah yang sesuai dengan kriteria "menyenangkan" dalam benak sederhana kanak-kanak. Keduanya saat ini sangat menikmati proses belajar di Sekolah Alam Jingga. Bagaimana dengan Anda?

catatan: yuk, kita buat pembelajaran jarak jauh menggunakan Skype. Klik di sini untuk info lebih lanjut.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...